Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menepis anggapan bahwa Program Motor Listrik Nasional (Molinas) akan hadir sebagai kendaraan dengan satu merek yang menguasai pasar. Sebaliknya, Molinas dirancang sebagai platform terbuka yang dapat melibatkan berbagai produsen lokal maupun pabrikan yang memenuhi standar nasional. Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, menegaskan bahwa konsep tersebut menjadi bagian penting dari strategi pemerintah dalam membangun ekosistem kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia. Booth motor listrik MAB di PEVS 2025 Dengan melibatkan banyak pelaku industri, Molinas diharapkan mampu tumbuh lebih masif, kompetitif, dan terhindar dari praktik monopolistik. “Molinas bukan sekadar peluncuran satu jenis kendaraan, melainkan ekosistem seluruh dari industri, baterai, pembiayaan, dan juga penyerapan pasar. Nah, ini menjadi kata kunci untuk kita semua,” ujar Atong di Jakarta, dikutip Senin (24/8/2026). Menurut Atong, pemerintah membagi pengembangan industri otomotif nasional ke dalam empat pilar utama, yakni input, process, regulasi, dan market. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Pada sisi input, perhatian pemerintah tidak hanya diarahkan pada ketersediaan material, tetapi juga mencakup pemberian insentif serta penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Molinas Libatkan Banyak Pelaku Industri Konsep terbuka dalam Molinas membuat program ini tidak hanya berorientasi pada produksi sepeda motor listrik. Pemerintah ingin membangun ekosistem yang saling terhubung, mulai dari rantai pasok manufaktur, penyedia komponen, industri baterai, hingga infrastruktur pendukung. Salah satu pengunjung IIMS 2025 antusias melihat simulasi penukaran baterai motor listrik di booth PLN. Ekosistem tersebut juga mencakup penyedia stasiun pengisian daya (charging) dan penukaran baterai (battery swapping), lembaga pembiayaan, jaringan distribusi, serta layanan purnajual. Atong mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 10 mitra industri yang masuk dalam radar pengembangan dan dipersiapkan untuk memperkuat jaringan produksi Molinas. Keterlibatan banyak mitra diharapkan membuat program tersebut tidak bergantung pada satu produsen sekaligus memperluas manfaat ekonominya. Presiden RI Prabowo Subianto meninjau fasilitas produksi Molinas di PT ALVA serta pameran sejumlah motor listrik buatan dalam negeri di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026) Pemerintah menilai percepatan adopsi motor listrik di dalam negeri membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Karena itu, keberhasilan Molinas tidak hanya akan ditentukan oleh kemampuan memproduksi kendaraan, tetapi juga kesiapan komponen, baterai, pembiayaan, infrastruktur, hingga pasar. TKDN Jadi Kunci Nilai Tambah Molinas Selain membuka ruang bagi banyak produsen, pemerintah juga menempatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai salah satu instrumen utama untuk memastikan Molinas memberikan manfaat bagi industri nasional. Pada tahap awal, pemerintah menargetkan TKDN sebesar 40 persen. Angka tersebut kemudian diharapkan meningkat secara bertahap hingga mencapai 60 persen pada periode 2028-2029. pertanyaan yang disampaikan bahwa 40 persen target TKDN-nya. Nanti tahun 2028-2029 itu harapannya 60 persen. Ini kata kuncinya. Apakah hanya sekadar perakitan? Tidak,” ucap Atong. Menurutnya, peningkatan TKDN penting agar Molinas tidak berhenti pada kegiatan perakitan (assembling) kendaraan. Pemerintah ingin memastikan semakin besar nilai ekonomi yang tercipta dan bertahan di dalam negeri. Dengan demikian, keberadaan Molinas diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri lokal, terutama pada sektor baterai dan komponen inti kendaraan listrik. Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya pemerintah membangun industri motor listrik nasional yang terbuka, kompetitif, dan memiliki rantai nilai yang kuat di dalam negeri.