Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong Motor Listrik Nasional (Molinas) menggunakan baterai berbasis nikel atau Nickel Manganese Cobalt (NMC) yang diproduksi di dalam negeri. Penggunaannya dinilai penting untuk memastikan program Molinas tidak hanya menghasilkan kendaraan listrik, tetapi juga ikut menggerakkan agenda hilirisasi nikel nasional. Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian Atong Soekirman mengatakan, mayoritas kendaraan listrik global saat ini justru menggunakan teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP). Presiden Prabowo Subianto saat acara pluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026). Kondisi tersebut membuat Indonesia perlu memiliki strategi berbeda dengan memanfaatkan keunggulan sumber daya alam yang dimiliki. "Untuk mobil ya hampir 95 persen, di atas 90 persen itu bukan nikel, tapi LFP (lithium). Nah, tentunya ini yang kita coba dorong sebagai simbol dari Molinas tadi dengan produk dari dalam negeri, khususnya baterai," kata Atong dalam diskusi di Jakarta (20/8/2026). Karena itu, pemerintah mendorong agar motor listrik yang dikembangkan melalui program Molinas menggunakan baterai nikel produksi dalam negeri. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Baterai Nikel Jadi Bagian Hilirisasi Menurut Atong, penggunaan baterai nikel pada Molinas tidak bisa dilepaskan dari agenda hilirisasi yang tengah digenjot pemerintah. Indonesia memiliki sumber daya nikel yang besar sehingga bahan baku tersebut diharapkan tidak hanya diekspor sebagai komoditas mentah atau setengah jadi, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah, termasuk komponen kendaraan listrik. "Program nikel ini kan program hilirisasi nasional sebenarnya. Nah, ini akan coba dorong sehingga nanti muatan daripada Molinas ini bisa menggunakan produk baterai berbasis nikel yang merupakan program hilirisasi ini secara berkelanjutan," ujar dia. Ilustrasi baterai motor listrik Alva Penggunaan baterai lokal tersebut juga dikaitkan dengan pemenuhan persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditargetkan pemerintah mencapai 40 persen. Dengan demikian, Molinas diharapkan memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan industri dalam negeri, mulai dari bahan baku hingga produksi baterai dan kendaraan. Molinas Dibidik Jadi Penggerak Ekonomi Pemerintah menilai pembangunan ekosistem Molinas dari hulu hingga hilir dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas. Ekosistem tersebut diproyeksikan memiliki potensi nilai ekonomi hingga Rp 50 triliun. Selain itu, program ini juga diperkirakan mampu membuka lebih dari 315.000 lapangan kerja baru. Test ride Alva N3 Selain itu, konversi sekitar 1,1 juta kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik disebut berpotensi menghemat alokasi subsidi BBM hingga Rp 7,82 triliun. Dari sisi perdagangan, pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai produksi dalam negeri juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Potensi substitusi impor yang diproyeksikan mencapai Rp 14 triliun sekaligus diharapkan memperkuat neraca perdagangan Indonesia. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Atong mengatakan, arah pengembangan Molinas pada akhirnya bukan sekadar menghadirkan motor listrik dengan merek nasional. Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari pembangunan industri yang terintegrasi dan memanfaatkan kekuatan sumber daya Indonesia.