Aturan terbaru mengenai insentif kendaraan listrik hingga kini belum juga diterbitkan pemerintah. Padahal, kebijakan tersebut semula ditargetkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Berbeda dengan skema sebelumnya, insentif mobil listrik kali ini direncanakan tidak diberikan dalam jumlah yang sama. Besarannya akan disesuaikan dengan kandungan nikel yang digunakan pada baterai kendaraan. Pemerintah sebelumnya menyiapkan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40 persen hingga 100 persen untuk 100.000 unit mobil listrik. Semakin tinggi kandungan nikel pada baterai, semakin besar insentif yang berpotensi diterima. Kebijakan ini berkaitan dengan posisi Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Pemerintah ditengarai ingin sumber daya tersebut tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah, seperti baterai kendaraan listrik. Ilustrasi baterai mobil listrik Wakil Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Bidang Pengembangan dan Penelitian, Prabowo Kartoleksono, menilai langkah tersebut tepat karena nikel masih memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi baterai. "Menurut saya dan menurut kami, pemakaian nikel untuk baterai itu sebenarnya bukan hal yang haram. Bahkan itu lebih bagus karena lebih ringan. Dengan demikian, dengan ukuran dan bobot yang sama, baterai tersebut bisa menempuh jarak lebih jauh," ujarnya di Jakarta, Selasa (28/7/2026). NMC dan LFP Secara umum, saat ini ada dua jenis baterai yang banyak digunakan pada mobil listrik, yakni Nickel Manganese Cobalt (NMC) dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Baterai NMC menggunakan nikel sebagai salah satu bahan utamanya. Keunggulannya adalah memiliki kepadatan energi lebih tinggi, sehingga mobil dapat menempuh jarak lebih jauh dengan kapasitas baterai yang sama. Sementara itu, baterai LFP tidak menggunakan nikel. Jenis baterai ini lebih murah diproduksi, memiliki umur pakai panjang, dan dikenal lebih stabil. Baterai mobil listrik MG Karena alasan tersebut, banyak produsen mobil listrik asal China sebagai pemain kendaraan listrik terbesar saat ini mayoritas memilih menggunakan baterai LFP. Meski demikian, Prabowo menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku di masing-masing negara. "Tapi kenapa dunia, dalam hal ini China sebagai produsen EV terbesar, memilih memakai LFP? Karena mereka tidak punya nikel. Teknologi nikel, teknologi NMC, buat mereka itu ada di spektrum yang lain," ujarnya. "Indonesia punya nikel berlimpah. Kita punya cadangan nikel dengan deposit terbesar di dunia. Kalau kita tidak mau memanfaatkannya untuk kesejahteraan kita sendiri, lalu untuk apa?," kata Prabowo. Baterai Solid-State Meski saat ini LFP semakin populer, pengembangan teknologi baterai terus berjalan. Bahkan, sejumlah perusahaan mulai mengembangkan baterai berbasis sodium sebagai alternatif. Baterai mobil listrik Xpeng X9 Namun, menurut Prabowo, tujuan utama industri otomotif dunia saat ini adalah menghadirkan baterai solid-state. Berbeda dengan baterai lithium-ion yang digunakan saat ini, baterai solid-state memakai elektrolit berbentuk padat, bukan cair. Teknologi ini diyakini mampu menyimpan energi lebih besar, membuat jarak tempuh kendaraan lebih jauh, waktu pengisian daya lebih cepat, serta meningkatkan keamanan karena risiko panas berlebih lebih rendah. Selain itu, baterai solid-state juga diperkirakan memiliki umur pakai lebih panjang dan ukuran yang lebih ringkas. Meski begitu, teknologi ini masih dalam tahap pengembangan karena biaya produksinya masih tinggi dan proses pembuatannya belum semudah baterai lithium-ion saat ini. Persiapan booth BYD di GIIAS 2026 Berbagai produsen otomotif masih terus mengembangkan teknologi tersebut. Banyak pihak meyakini baterai solid-state akan menjadi generasi berikutnya bagi kendaraan listrik. "Perkembangan baterai dunia disampaikan bahwa sekarang dunia bahkan sudah tidak memakai LFP lagi, tetapi mulai menuju sodium," ujar Prabowo. "Betul, tapi ada satu arah yang sedang dituju oleh semua perusahaan kendaraan di dunia. Apa itu? Solid-state," katanya. "Sampai sekarang belum ditemukan material lain yang bisa dipakai untuk menggantikan nikel pada baterai solid-state. Nah, ini kesempatan kita, peluang kita, yang perlu direbut oleh pemerintah," ujar Prabowo. Peluang Indonesia Prabowo mengatakan, hingga kini belum ada baterai solid-state, baik pada tahap penelitian maupun uji coba, yang benar-benar tidak menggunakan nikel. Karena itu, menurut dia, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam industri baterai generasi berikutnya jika mampu memanfaatkan cadangan nikel yang dimiliki. Ilustrasi baterai mobil listrik Wuling "Dalam hal ini kami berkali-kali menyampaikan bahwa nikel sebaiknya dimanfaatkan, bukan hanya untuk baterai NMC, tetapi juga untuk baterai solid-state," ujar Prabowo. "Sampai sekarang belum ada baterai solid-state, baik dalam skala laboratorium maupun skala uji coba, yang tidak memakai nikel, karena mereka belum menemukan material lain," katanya. Prabowo menilai, hingga saat ini belum ada material yang mampu menggantikan peran nikel pada teknologi tersebut. "Nah, kita punya kesempatan. Kalau pemerintah jeli melihat potensi pasar, kita bisa menjadi produsen baterai solid-state," ujarnya. "Nantinya orang akan mengejar ke sana karena lebih aman, lebih ringan, lebih ringkas, dan memiliki banyak keunggulan," kata Prabowo.