Peneliti senior dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi menyoroti belum optimalnya pemanfaatan cadangan nikel Indonesia untuk mendorong industri baterai sel kendaraan listrik. Meski menjadi salah satu pemasok nikel terbesar di dunia dengan proyeksi mampu memenuhi hingga 70 persen kebutuhan nikel global, Indonesia dinilai masih berkutat pada aktivitas hilirisasi dengan nilai tambah yang relatif terbatas. Maka dari itu, ia menilai kondisi ini sebagai paradoks dalam pengembangan industri nasional. Baterai NiMH terbuat dari bahan nikel "Indonesia masih terjebak pada aktivitas hilir terbatas seperti produksi bahan dasar nikel mulai dari Nickel Pig Iron (NPI), hingga nickel sulfate yang nilai tambahnya relatif rendah dibanding produksi baterai sel," ujar Agus di Jakarta, Selasa (14/4/2026). Saat ini, sebagian besar produk olahan nikel di dalam negeri masih berupa bahan setengah jadi. Produk tersebut kemudian dikirim ke luar negeri untuk diproses lebih lanjut menjadi baterai, terutama oleh negara yang sudah memiliki teknologi manufaktur lebih maju. Kondisi tersebut membuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global masih belum kuat. Padahal, pengembangan industri baterai sel dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus daya saing nasional. Adapun, dalam rantai pasok global, China masih mendominasi importir bahan baku Nickel Ore dari Indonesia. Ilustrasi tambang nikel ilegal. “Kalau kita lihat jadi 60 persen ke atas itu produk elektrifikasi kita mayoritas dari China. Ternyata Thailand juga sama dominan dari China dan mereka sudah menghadapi masalah di industri otomotifnya,” jelas Agus. Oleh karena itu, percepatan pembangunan ekosistem baterai sel menjadi langkah penting agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku. Pemerintah sendiri sebelumnya telah mendorong investasi besar di sektor pengolahan nikel, sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dunia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang