China mencatat kemajuan dalam pengembangan baterai solid-state setelah teknologi tersebut berhasil diuji selama satu tahun pada jaringan pemanas bawah tanah milik Beijing Energy Group. Selama pengujian, sistem baterai beroperasi pada suhu hingga 85 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan mencapai 95 persen. Hasilnya, baterai diklaim tetap bekerja stabil sepanjang musim dingin. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa baterai solid-state mulai siap digunakan di lingkungan industri. Namun, hingga sekarang teknologi tersebut masih belum diterapkan pada mobil listrik produksi massal. Changan bakal tes baterai solid state mulai kuartal ketiga 2026 Terbukti di Lingkungan Ekstrem Proyek bertajuk Research & Development and Demonstration Verification of Solid-State Battery Technology in Extreme Environments itu dinyatakan lolos evaluasi Beijing Municipal Science and Technology Commission pada 15 Juli 2026. Sistem baterai dipasang di jaringan pipa pemanas sepanjang 1,1 kilometer di kawasan Shijingshan West Chang'an Avenue Extension, Beijing. Berbeda dengan pengujian di laboratorium, baterai digunakan langsung pada infrastruktur yang beroperasi selama satu musim dingin. Selama periode tersebut, sistem mampu bekerja stabil pada suhu 40-85 derajat Celsius dengan kelembapan 90-95 persen. Pengujian merupakan bagian dari program teknologi netral karbon Pemerintah Beijing. Beijing Energy Group menjadi pelaksana proyek bersama Jingneng Technology dan sejumlah mitra di bidang penyimpanan energi. Baterai tersebut dikembangkan oleh Pure Lithium New Energy, perusahaan asal Beijing yang pada 2025 memperkenalkan baterai solid-state generasi pertama untuk sistem penukaran baterai sepeda listrik. Meski demikian, perusahaan belum mengungkapkan spesifikasi teknis seperti kapasitas energi, jenis material, tingkat degradasi, maupun umur siklus pengisian baterai. Baterai mobil listrik MG Belum Memenuhi Kebutuhan Mobil Listrik Dikutip Carnewschina, CEO Pure Lithium New Energy Yang Fan mengatakan, pengembangan teknologi ini difokuskan untuk mengatasi tiga tantangan utama, yakni biaya produksi, skala manufaktur, dan penerapan secara komersial. Dari sisi keselamatan, baterai telah mengantongi sertifikasi IP68 sehingga tahan debu dan air. Sistem juga lolos pengujian keselamatan nasional dengan klaim tidak mudah terbakar maupun meledak pada skenario simulasi. Meski demikian, kebutuhan baterai kendaraan listrik jauh lebih kompleks dibanding sistem penyimpanan energi stasioner. Produsen mobil tidak hanya mengejar faktor keamanan, tetapi juga kepadatan energi, bobot baterai, kecepatan pengisian, daya tahan, serta biaya produksi agar kendaraan dapat dijual dengan harga kompetitif. Artinya, keberhasilan baterai solid-state bertahan di lingkungan ekstrem belum otomatis membuatnya siap dipasang pada mobil listrik produksi massal. Ilustrasi baterai solid state China sendiri mulai mempercepat komersialisasi teknologi ini melalui penerapan standar baru baterai solid-state yang mulai berlaku pada Juli 2026. Namun, pelaku industri masih bersikap hati-hati. Chairman CATL Robin Zeng menyebut baterai solid-state masih menghadapi tantangan besar dalam proses manufaktur sehingga membutuhkan waktu sebelum benar-benar siap diproduksi dalam jumlah besar untuk kendaraan listrik. Dengan kata lain, tantangan utama baterai solid-state saat ini bukan lagi membuktikan ketahanannya, melainkan bagaimana memproduksinya secara massal dengan biaya yang terjangkau bagi industri otomotif.