Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mendorong pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas) yang benar-benar dibangun di Indonesia. Lembaga tersebut ingin Molinas memiliki kemampuan manufaktur dan teknologi sendiri, bukan sekadar melakukan pengemasan ulang produk dari luar negeri. Managing Director Industrialisasi BPI Danantara Ardy Muawin mengatakan, pengembangan Molinas harus mencakup berbagai tahapan, mulai dari desain hingga riset dan pengembangan atau research and development (R&D). Danantara membangun sistem SDM terintegrasi di seluruh BUMN dengan target posisi CEO dan direktur mulai 2028 diisi talenta internal “Danantara berharap ada motor listrik yang dibangun di Indonesia. Tentunya yang kedua, kita berharap sudah punya production facility juga. Jadi memang benar-benar dibangun di Indonesia supaya TKDN-nya dapat,” ujar Ardy di Jakarta, Jumat (20/8/2026). Menurut Ardy, keberadaan fasilitas produksi menjadi bagian penting untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) motor listrik nasional. Karena itu, pengembangan Molinas tidak hanya diarahkan pada aktivitas repacking atau merakit dan mengemas kembali kendaraan yang telah dikembangkan di negara lain. Indonesia diharapkan memiliki kemampuan untuk mengembangkan produk dan teknologinya sendiri. Baterai nikel Toyota Nikel Jadi Kekuatan Molinas Selain manufaktur, Danantara melihat bahan baku baterai sebagai salah satu kunci dalam membangun industri motor listrik nasional. Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar. Kondisi tersebut dinilai menjadi keunggulan yang dapat dimanfaatkan untuk membangun ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis sumber daya dalam negeri. Ardy membandingkan strategi Indonesia dengan China. Menurut dia, China memiliki alasan tersendiri dalam mendorong penggunaan baterai lithium iron phosphate (LFP), salah satunya karena keterbatasan sumber daya nikel. Presiden Prabowo Subianto saat acara pluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026). “China itu kenapa push LFP dengan lithium ferro? Karena dia tidak punya nikel. Jadi negaranya hadir dengan memberikan insentif LFP, sehingga economic scale-nya bagus, harga bisa turun. Nah, Indonesia kan punya nikel, dibalik. Jadi secara prinsip Molinas itu adalah Indonesia motor listrik,” ucap Ardy. Dengan memanfaatkan keunggulan bahan baku lokal, Danantara berharap industri motor listrik nasional tidak hanya menghasilkan kendaraan, tetapi juga membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Ekosistem dari Hulu ke Hilir Pengembangan Molinas ditempatkan Danantara dalam kerangka ekosistem yang saling terhubung. Artinya, investasi tidak hanya diarahkan pada produsen motor listrik, tetapi juga ke berbagai sektor pendukung. PT Len Industri (Persero) sebagai anak usaha Danantara berkolaborasi dengan sejumlah mitra strategis, termasuk pabrikan yang telah memiliki fasilitas produksi dan hak kekayaan intelektual lokal seperti Gesits dan Alva. Investasi juga disiapkan untuk berbagai lini pendukung. Danantara memiliki keterlibatan pada PT Industri Baterai Indonesia (IBC), penguatan manufaktur kendaraan melalui PT Pindad (Persero), serta pengembangan infrastruktur pengisian kendaraan listrik melalui kerja sama dengan PT Pertamina (Persero). Contoh Bank Himbara adalah BNI dan BRI, lalu bank yang termasuk Himbara lainnya adalah Mandiri serta BTN. Sementara untuk membuat harga motor listrik lebih terjangkau bagi masyarakat, Danantara juga menggandeng perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara) untuk menyiapkan skema pembiayaan. Menurut Ardy, keterlibatan berbagai perusahaan negara, swasta, dan lembaga keuangan tersebut merupakan bagian dari semangat Indonesia Inc yang ingin membangun ekosistem secara bersama-sama. “Jadi ekosistem itu harus saling support dengan harapan ke depannya kita bisa lebih maju. Jadi bukan hanya motor saja, nanti yang lain-lainnya juga ekosistem itu yang akan dikembangkan,” kata dia.