Pengemudi ojek online (ojol) dinilai memiliki alasan kuat untuk beralih menggunakan motor listrik. Namun, kenyataannya perpindahan tersebut belum berlangsung masif karena masih ada sejumlah hambatan. BPI Danantara Indonesia mengungkap setidaknya dua persoalan utama yang membuat pengemudi ojol masih ragu menggunakan motor listrik, yakni masalah teknis kendaraan dan akses pembiayaan. Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin mengatakan, persoalan teknis sempat menjadi salah satu penyebab utama rendahnya minat pengemudi ojol. Danantara membangun sistem SDM terintegrasi di seluruh BUMN dengan target posisi CEO dan direktur mulai 2028 diisi talenta internal Menurut dia, sejumlah motor listrik yang digunakan pada masa awal perkembangannya dinilai kurang bertenaga ketika melintasi tanjakan. Selain itu, kapasitas dan daya tahan baterai juga belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pengemudi yang menggunakan kendaraan sepanjang hari. Meski demikian, persoalan teknis tersebut kini disebut mulai dapat diatasi oleh produsen melalui pengembangan teknologi dan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen. Ilustrasi kredit kendaraan bermotor, kredit motor, perusahaan pembiayaan (multifinance). Masalah Kredit Jadi Hambatan Ojol Persoalan berikutnya yang dinilai lebih krusial adalah pembiayaan. Danantara mendapatkan masukan dari pihak Grab bahwa banyak mitra pengemudi mengalami kesulitan mendapatkan fasilitas kredit untuk membeli motor listrik. Salah satu kendalanya adalah proses verifikasi melalui BI Checking atau Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Padahal, pengemudi ojol yang aktif bekerja setiap hari dan memiliki performa baik dinilai memiliki potensi risiko kredit yang rendah. Kondisi tersebut membuat profil pengemudi ojol belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kemudahan akses pembiayaan oleh lembaga keuangan. Booth motor listrik Exotic di GIIAS 2025 Danantara menilai risiko tersebut sebenarnya dapat ditekan dengan membuat skema pembiayaan yang menyesuaikan karakteristik pengemudi ojol. Salah satunya melalui cicilan harian serta sistem penonaktifan kendaraan secara otomatis apabila pembayaran mengalami tunggakan. "Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen," ujar Ardy di Jakarta, dikutip Rabu (26/8/2026). Menurut Ardy, persoalan bunga juga menjadi tantangan tersendiri. Kredit sepeda motor saat ini dapat dibebani bunga sekitar 30-40 persen, sedangkan kredit mobil berada di kisaran 12 persen. Ilustrasi ojek online Gojek. Beban tersebut semakin berat karena diler disebut cenderung mendorong konsumen mengambil skema kredit untuk mengejar bonus penjualan. Motor Listrik Bisa Hemat Rp 500.000 Sebulan Untuk mengatasi persoalan pembiayaan tersebut, Danantara menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menyusun skema kredit yang lebih terjangkau. Langkah ini dinilai penting karena secara operasional motor listrik justru berpotensi memberikan keuntungan bagi pengemudi ojol. Harga Motor Listrik Nasional (Molinas) ditargetkan mulai Rp18 juta. Pemerintah menyiapkan produksi massal hingga 1 juta unit per tahun. Berdasarkan riset Danantara, penggunaan motor listrik dapat memangkas biaya harian pengemudi sekitar Rp 10.000 hingga Rp 20.000 dibandingkan sepeda motor bensin. Jika penghematan tersebut dihitung berdasarkan 25 hari kerja dalam sebulan, pengemudi berpotensi menghemat sekitar Rp 500.000 per bulan. "Itu jumlah yang besar buat teman-teman ojol," ucap Ardy.