Konversi motor listrik di Indonesia punya pasarnya sendiri, yakni kalangan enthusiast. Bagi mereka, mengubah motor bensin menjadi listrik bukan sekadar mendukung target pemerintah, tetapi soal ramah lingkungan dan kesenangan berkendara. Bambang Setiawan Yudistira atau Ibeng, pegiat motor listrik dari EV Holic, mengungkapkan bahwa keunggulan utama motor konversi terletak pada kualitas geometri dan mekanik motor donor yang sudah teruji puluhan tahun. "Kalau dari rasa kenyamanan kendaraan dan lain-lain, saya lebih suka motor konversi dibandingkan motor listrik baru. Karena secara geometri, mekanik dan lain-lainnya, ini sudah teruji lama motor ini. Jadi kalau dipakai memang sudah terbukti nyaman," ujar Ibeng kepada Kompas.com, belum lama ini. Motor konversi milik Ibeng, dari Vario 125 jadi listrik Namun, di balik kenyamanan sasis yang stabil, ada keterbatasan teknis yang harus diterima. Berbeda dengan motor bensin yang fleksibel untuk jarak jauh, motor konversi sering kali terbentur masalah ruang baterai, terutama untuk jenis skutik. "Tempat untuk baterainya kan tidak besar kalau di skutik. Itu cuma dapat 20 Ampere Hour (Ah) waktu itu. Dan di bawah jok itu sudah tidak ada lagi bagasi, semuanya buat baterai," kata Ibeng. Paket konversi motor listrik Keterbatasan ruang ini berdampak langsung pada daya jelajah. Ibeng memberikan perbandingan yang sangat kontras antara efisiensi BBM dan listrik pada motor yang sama. "Jarak tempuhnya hanya sekitar 50 kilometeran untuk satu kali charge. Padahal kalau dulu di motor ini, 1 liter itu kan bisa 50-an kilometer juga," ucapnya. Artinya, untuk menempuh jarak 100 km, pengguna harus melakukan manajemen pengisian daya yang cukup repot karena durasi pengecasan yang tidak sebentar. Belum lagi tentang biaya konversi. Pemerintah memang sempat memberikan subsidi, tetapi rasanya masih belum menutup sebagian besar ongkos yang keluar untuk mengubah motor bensin jadi listrik. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Ibeng menilai konversi saat ini lebih masuk akal sebagai kendaraan hobi bagi mereka yang sudah memiliki kendaraan utama lain. Hal ini dikarenakan adanya faktor "kerugian" nilai aset yang sulit diterima oleh masyarakat umum yang menganggap motor sebagai investasi. "Menurut saya itu tidak cocok buat orang-orang yang memang menganggap motor itu sebagai investasi. Kan banyak menganggap motor salah satu investasi kan. Kalau butuh duit ya sudah, jualin," jelasnya. Ibeng menambahkan bahwa skema konversi ini baru akan terasa sukses jika menyasar pemilik yang memang sudah memiliki unit motor nganggur di garasinya. "Program konversi ini bisa berhasil kalau satu adalah untuk orang-orang yang memang satu, modalnya dia sudah punya dan tidak terpakai," kata Ibeng. Kesimpulannya, motor konversi menawarkan "jiwa" dan kenyamanan berkendara yang solid bagi seorang enthusiast, namun pengguna harus siap berkompromi dengan hilangnya fungsi bagasi, jarak tempuh yang terbatas, serta nilai jual yang jatuh drastis. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang