Konversi motor bensin ke listrik seringkali dianggap sebagai langkah efisiensi. Namun, dalam prakteknya, ada perubahan gaya hidup dan manajemen perjalanan yang harus dihadapi pengguna, terutama terkait kapasitas penyimpanan dan daya jelajah. Bambang Setiawan Yudistira, atau yang akrab disapa Ibeng, menceritakan pengalamannya mengoperasikan Honda Vario hasil konversi miliknya yang menggunakan konfigurasi mid-drive atau motor penggerak di tengah rangka. Konsekuensi pertama yang langsung terasa adalah hilangnya sisi praktis. Jika biasanya di bawah jok tersedia bagasi luas, kini ruang tersebut sudah sepenuhnya disesaki oleh baterai. Motor konversi milik Ibeng, dari Vario 125 jadi listrik "Tempat untuk baterainya kan enggak besar kalau di skutik. Itu cuma dapat 20 Ampere Hour (Ah) waktu itu. Tidak ada tempat penyimpanan lain, cuma baterai saja," ujar Ibeng kepada Kompas.com. Dampaknya, pengguna tidak lagi memiliki ruang untuk menyimpan jas hujan atau helm di dalam motor. Ruang bagasi tersebut harus dikorbankan demi menempatkan sumber daya utama kendaraan. Ibeng menyoroti perbedaan signifikan mengenai daya jelajah motornya sebelum dan sesudah dikonversi. Sebelum menjadi motor listrik, Vario miliknya tergolong irit dengan catatan satu liter BBM bisa menempuh jarak lebih dari 50 kilometer. Motor konversi milik Ibeng, dari Vario 125 jadi listrik Namun, setelah dikonversi dengan kapasitas baterai yang terbatas di ruang bagasi, jarak tempuhnya justru tidak bertambah jauh. "Jarak tempuhnya hanya sekitar 50 kilometeran untuk satu kali cas. Padahal kalau dulu di motor ini, 1 liter itu kan bisa 50-an kilometer juga," tuturnya. Kondisi ini membuat motor konversi menjadi kurang ideal jika harus dipaksa menempuh perjalanan jarak jauh atau penggunaan intensif. Ibeng merasa harus melakukan manajemen pengisian daya yang lebih ketat jika ingin menempuh jarak 100 km dalam sehari. Motor konversi milik Ibeng, dari Vario 125 jadi listrik "Berarti saya harus cas pagi sebelum berangkat, siang 50 km cas lagi, baru bisa gitu. Dan untuk ngecasnya lama," tambahnya. Secara teknis, motor milik Ibeng tetap mempertahankan mekanisme asli motor bensin dalam penyaluran tenaga, yakni melalui sistem CVT ke roda belakang. Meski menggunakan sasis yang sudah teruji nyaman, kombinasi penggerak listrik dan batasan regulasi watt membuatnya terasa berbeda. "Kita merasakan penurunan performa, ngerasa kayak lebih lelet. Memang dari sisi geometri dan mekanik jauh lebih nyaman dibanding motor listrik baru, tapi secara performa menurut saya kurang reliable untuk dipakai sehari-hari (jarak jauh)," pungkas Ibeng. Review ini mempertegas bahwa motor konversi saat ini lebih cocok bagi mereka yang memiliki rute harian pendek dan tetap menginginkan kenyamanan ergonomi motor Jepang, namun sudah siap berkompromi dengan hilangnya bagasi dan durasi pengisian daya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang