Penggunaan sepeda listrik kini makin masif karena dimensi yang ringkas dan bobotnya lebih ringan dibandingkan sepeda motor. Sayangnya, meningkatnya jumlah pengguna diikuti sejumlah kasus seperti baterai meledak dan terbakar. Salah satu kejadian yang memicu perhatian adalah insiden di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang menewaskan tiga orang. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan baterai tidak boleh diabaikan. Ofero perkenalkan sepeda listrik dengan desain mewah dan performa andal. Pakar energi terbarukan dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Izza Anshory menyebut insiden seperti itu sebenarnya bisa dicegah. Kuncinya, pengguna memahami cara kerja baterai dan langkah pengisian daya yang aman. Menurutnya, baterai lithium-ion yang banyak dipakai pada sepeda listrik memang unggul dalam efisiensi dan daya simpan. Namun, ada risiko bawaan dari sifat kimianya. “Baterai lithium bisa menyimpan energi besar dalam ukuran kecil, tapi sifatnya reaktif,” ujar Izza dikutip dalam keterangannya, Sabtu (28/11/2025). Jika baterai diperlakukan tidak sesuai standar, seperti dicas terlalu lama atau memakai charger sembarangan, potensi panas berlebih dapat muncul. Kondisi ini bisa memicu kebakaran. Izza menjelaskan bahwa penyebab utama baterai meledak adalah overheat. Ketika suhu melewati batas aman, baterai bisa mengalami thermal runaway, yaitu reaksi berantai yang membuat panas makin meningkat. Ilustrasi sepeda listrik “Begitu panasnya meningkat dan sistem pendinginan tidak mampu mengimbanginya, baterai akan bereaksi sendiri,” jelasnya. Gas di dalam baterai dapat memuai dan meningkatkan tekanan. Jika casing tidak kuat, risiko ledakan tidak bisa dihindari. Selain suhu, masalah juga bisa dipicu charger yang tidak sesuai, overcharging, korsleting, atau kerusakan fisik seperti benturan dan karat. Bahkan baterai menggelembung pun sudah menjadi tanda bahaya. “Kalau sudah rusak, apalagi menggelembung, sebaiknya jangan dipakai,” katanya. Jenis baterai yang digunakan pada sepeda listrik juga beragam, mulai dari NMC hingga LFP. Masing-masing memiliki karakter dan tingkat keamanan berbeda. “Kedua jenis baterai ini sama-sama menawarkan performa unggul, namun tetap memiliki risiko ketika mengalami kerusakan atau digunakan secara tidak benar,” ujarnya. Fasilitas sepeda listrik di Universitas Brawijaya. Sebagian besar sepeda listrik modern dilengkapi Battery Management System (BMS). Sistem ini memantau kondisi baterai dan memutus arus saat terjadi anomali. “Kalau BMS bekerja baik, dia akan otomatis memutus arus listrik ketika suhu terlalu tinggi atau tegangan berlebih,” tutur Izza. Ia mengingatkan bahwa produk murah atau tanpa BMS memiliki risiko jauh lebih besar. Oleh karena itu, pemilihan produk bersertifikat SNI sangat penting. Indonesia sudah memiliki 34 standar terkait kendaraan listrik, termasuk yang mengatur keamanan baterai dan proses pengisian daya. “Regulasi ini bertujuan memastikan risiko panas berlebih hingga kebakaran dapat diminimalisir sejak tahap produksi,” jelasnya. Dalam penggunaan sehari-hari, Izza menganjurkan agar pengguna tidak ceroboh saat mengecas. Mengisi baterai tanpa pengawasan bisa menimbulkan bahaya. Ia juga mengingatkan agar tidak mengecas saat tidur, tidak menaruh baterai di dekat benda mudah terbakar, dan hanya memakai charger asli. Baterai perlu disimpan di tempat sejuk serta rutin diperiksa kondisinya. "Jika terjadi kebakaran pada baterai, pengguna tidak disarankan memadamkannya sendiri karena risikonya sangat tinggi," tutupnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang