— Memilih waktu berangkat mudik lebaran menjadi salah satu strategi untuk menghindari kemacetan di jalan. Namun pada kenyataannya, kepadatan lalu lintas sulit diprediksi. Karena itu, pemudik sebaiknya tidak hanya fokus mencari waktu yang dianggap sepi, tetapi juga mempertimbangkan faktor keselamatan dan kondisi fisik pengemudi selama perjalanan. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, mengatakan pada dasarnya tidak ada cara yang benar-benar pasti untuk menghindari kemacetan saat mudik. “Kalau dibilang bisa benar-benar menghindari macet, rasanya hampir tidak ada cara yang pasti," kata Jusri kepada Kompas.com, awal pekan ini. "Pilihan seperti perjalanan malam memang sering dianggap solusi, tetapi itu juga bisa berbenturan dengan prinsip keselamatan dalam safety driving atau defensive driving," kata Jusri. Jusri melihat bahwa pada malam hari justru ada risiko lain, seperti kondisi tubuh yang lebih mudah lelah atau mengantuk. "Karena itu sebenarnya perjalanan malam tidak terlalu direkomendasikan dari sisi keselamatan, sehingga saya juga tidak menyarankan hal tersebut," ungkapnya. "Lebih baik adalah menjaga ritme perjalanan agar stamina tetap terjaga. Misalnya memulai perjalanan saat waktu sahur atau menjelang subuh. Pada waktu-waktu itu biasanya kondisi tubuh masih segar dan bugar," kata Jusri. Seorang petugas Satuan Lalu Lintas Polres Padang Panjang mengatur arus kendaraan di salah satu persimpangan utama Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu (7/3/2026). Pengaturan lalu lintas dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan volume kendaraan menjelang arus mudik Lebaran dalam rangka pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. "Selama di perjalanan juga bisa sekalian berhenti untuk menunaikan shalat subuh. Cara seperti ini bisa membantu menghindari kelelahan atau fatigue saat berkendara," ujarnya. Menurut Jusri, memulai perjalanan saat tubuh masih segar dapat membantu pengemudi tetap fokus dan mengurangi risiko kelelahan selama berkendara jarak jauh. "Setelah itu, sekitar pukul 06.00 atau 07.00 pagi pengemudi juga bisa kembali berhenti untuk beristirahat. Jika kondisi jalan sedang macet, waktu tersebut bisa dimanfaatkan untuk beribadah seperti shalat duha atau shalat sunah lainnya.” Menjaga ritme perjalanan, istirahat berkala, dan tidak memaksakan diri mengemudi saat lelah, diharapkan bisa berlangsung lebih aman dan nyaman meskipun harus menghadapi kemacetan di jalan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang