Air radiator wajib diganti secara berkala agar sistem pendingin mesin tetap optimal. Langkah tersebut merupakan salah satu upaya merawat mobil agar terhindar dari bahaya overheating. Lantas, kapan waktu ideal mengganti air radiator pada mobil? Imun, pemilik bengkel Spesialis Ford Trucuk Klaten mengatakan air radiator yang direkomendasikan oleh pabrikan adalah coolant, dan waktu penggantiannya menyesuaikan produk yang dipakai. “Saran saya selalu gunakan coolant, karena air biasa tak memiliki kemampuan sepadan dengan coolant dalam menahan panas, titik didihnya hanya di 100 derajat celcius, kalau coolant di atasnya,” ucap Imun kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Coolant wajib diganti jika sudah lewat 2 tahun atau 40.000 Km, untuk coolant biasa yang banyak dijumpai di pasaran. Sementara long life coolant (LLC), punya usia pakai lebih panjang yakni sekitar 4 tahun atau 80.000 Km. Bila coolant tak diganti, lama-lama sifat unggulnya akan hilang, sehingga kondisinya hampir sama dengan air biasa, karena tak lagi mampu menahan panas dari mesin. Ilustrasi air coolant warna-warni. “Coolant normalnya warna hijau, atau biru, tergantung merek, bila sudah waktunya ganti, warnanya warnanya jadi pudar kecoklatan dan keruh, artinya aditif anti-karat anti didih sudah habis,” ucap Imun. Dari segi performa, mesin menjadi terasa lebih cepat mencapai suhu panas, jarum temperatur sering naik sedikit lebih tinggi dari biasanya dan bisa juga naik turun tidak stabil. Ini bisa terjadi lantaran coolant lama tidak lagi efektif menyerap dan melepas panas. Hardi Wibowo, pemilik bengkel Spesialis Nissan - Honda, Aha Motor Yogyakarta mengatakan penggantian air radiator tergantung dengan jenis cairannya. “Untuk radiator yang pakai air biasa disarankan ganti tiap 20.000 Km, sementara LLC tiap 80.000 Km, atau mengikuti buku petunjuk perawatan masing-masing kendaraan,” ucap Hardi kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Air biasa perlu lebih cepat diganti karena tak memiliki sifat anti karat dan pembersih. Selain itu, air keran atau sumur banyak mengandung mineral, ketika lama terkena panas akan menghasilkan endapan yang bisa membuat radiator pampat. “Banyak terjadi kasus mobil overheating, ternyata pakainya air biasa, kondisi radiator sudah kecoklatan dan tersumbat, sehingga pendinginan tidak optimal, ini tak boleh terjadi bila ingin mobil awet dan prima,” ucap Hardi. Jadi, penggantian air radiator bisa mengikuti anjuran pabrikan di buku pedoman perawatan masing-masing mobil, dan jenis cairan yang digunakan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang