JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Setia Diarta mengatakan, ekosistem industri baterai kendaraan listrik di Indonesia mulai terbentuk secara utuh, mulai dari pengolahan bahan baku hingga produksi baterai. Selain mendorong produksi kendaraan dan baterai, pemerintah juga mengembangkan hilirisasi material baterai di dalam negeri. Setia mengatakan, pada periode 2022-2025, pengembangan hilirisasi nikel diarahkan hingga menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat. Tahap tersebut diklaim telah selesai. Pabrik BYD di Subang ditargetkan menyerap hingga 20.000 tenaga kerja lokal saat mencapai kapasitas produksi penuh. 2030, pengembangan diarahkan pada produksi material katoda dan anoda. Sejumlah pabrik baterai disebut telah menyiapkan produksi kedua material tersebut untuk digunakan langsung dalam pembuatan baterai kendaraan listrik. "Jadi sudah bisa punya baterai sendiri, katoda dan anodanya juga sudah ada yang membuatnya di dalam negeri menggunakan potensi nikel yang ada di dalam negeri," ujar Setia, dalam rapat dengar pendapat Panja Komisi VII DPR RI yang disiarkan daring, Rabu (9/9/2026). Pabrik baterai VinFast Empat Kelompok Ekosistem Sudah Ada Setia menjelaskan, rantai pasok industri baterai kendaraan listrik di Indonesia bisa dikelompokkan dalam empat kelompok besar. "Secara ekosistem dari hulu ke hilir saat ini, kalau kita kelompokkan dalam empat kelompok besar; refinery, battery cell, EV manufacturing, ataupun recycle, keempat-empatnya ini sudah punya kita di Indonesia secara ekosistem," kata Setia. Ia menambahkan, untuk segmen EV manufacturing, perakitan kendaraan listrik roda dua, roda empat, hingga bus listrik semuanya sudah berjalan di dalam negeri. Di sisi teknologi pengisian daya, pemerintah juga terus mendorong pengembangan charging system sesuai peta jalan yang telah disiapkan. Setia mengatakan, implementasi teknologi tersebut terus berjalan, termasuk dengan semakin banyaknya penggunaan ultra fast charger. SPKLU Voltron di Puri Indah menawarkan 24 titik pengisian dengan teknologi ultra fast charging dan akses 24 jam. TKDN Diarahkan agar RI Jadi Basis Produksi Setia menambahkan, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi persentase komponen dalam negeri. Kebijakan tersebut diarahkan agar investasi kendaraan listrik yang masuk ke Indonesia tidak berhenti menjadikan Indonesia sebagai pasar. Menurutnya, industri kendaraan listrik perlu mulai menempatkan Indonesia sebagai basis produksi dengan tingkat lokalisasi komponen yang semakin tinggi. Xpeng menggandeng PT. UABS (Unified Automotive Battery System) Indonesia meresmikan produksi massal baterai mobil listrik untuk model X9 "TKDN yang disusun ini ingin mengarahkan bahwasannya industri, investasi industri kendaraan listrik yang masuk ke Indonesia itu tidak berhenti menjadikan Indonesia sebagai market saja, tapi mulai mempertimbangkan Indonesia sebagai hal produksi dari kendaraan listrik," katanya. Karena itu, Kemenperin terus mendorong peningkatan tingkat lokalisasi, terutama pada komponen baterai. Menurutnya, pengembangan produksi baterai, katoda, dan anoda di dalam negeri diharapkan memberikan nilai tambah lebih besar bagi industri nasional dengan memanfaatkan potensi nikel yang tersedia di Indonesia. PT SGMW Motor Indonesia (Wuling) telah mencatat angka produksi 160.000 unit kendaraan dari pabrik Wuling Cikarang "Itulah kenapa TKDN kami juga dorong sampai lokalisasi tinggi, hal yang utama di sini adalah kemanfaatan realisasi baterai ini juga dapat dilakukan di Indonesia, dan kami yakin ini akan menjadi nilai tambah bagi industri dalam negeri, dan yang tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai market," ujarnya. Selain pengembangan produksi baterai, pemerintah juga mulai mendorong teknologi end of life atau daur ulang baterai. Setia memperkirakan, aktivitas daur ulang baterai akan mulai memasuki periode puncaknya sekitar tiga tahun mendatang, seiring dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik sejak 2023.