Program Motor Listrik Nasional (Molinas) dinilai memiliki peluang menjadi tonggak industrialisasi kendaraan listrik di Indonesia. Namun, pemerintah perlu memastikan program tersebut tidak berhenti sebatas proyek kendaraan nasional, yang mengandalkan kemampuan perakitan dan dukungan kebijakan. Pengamat otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, tantangan terbesar Molinas justru berada pada pembangunan industri dan penguasaan teknologi di balik kendaraan listrik. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Menurut dia, Indonesia memiliki pengalaman dalam mengembangkan proyek kendaraan nasional yang mendapat perhatian besar ketika pertama kali diluncurkan. Namun, sejumlah proyek tersebut kehilangan momentum ketika terjadi perubahan kebijakan pada pemerintahan berikutnya. "Kalau Molinas ingin benar-benar menjadi proyek industrialisasi, tantangannya adalah jangan berhenti pada kemampuan merakit motor,” ujar Martin, kepada Kompas.com (16/8/2026) “Indonesia sudah beberapa kali mempunyai pengalaman proyek kendaraan nasional yang kuat ketika diluncurkan, tetapi kemudian seiring waktu kehilangan momentum ketika dukungan kebijakan pemerintah kabinet berikutnya berubah," kata dia. Presiden Prabowo Subianto saat acara pluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8/2026). Karena itu, Molinas perlu dirancang sebagai program industrialisasi jangka panjang yang tidak bergantung pada satu periode pemerintahan. Hal tersebut menjadi semakin relevan setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana pemberian insentif untuk produksi satu juta motor listrik di dalam negeri. Jangan Hanya Andalkan Kapasitas Perakitan Prabowo sebelumnya menyampaikan rencana tersebut dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya di Jakarta, Jumat. "Hari ini kita umumkan, kita akan berikan insentif yang cukup besar untuk mereka yang bisa membangun satu juta motor listrik yang diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan Indonesia," kata Prabowo. Motor listrik Sunra Menurut Prabowo, kebijakan tersebut ditujukan untuk mempercepat elektrifikasi mobilitas masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Pemerintah juga ingin memperkuat industri motor listrik nasional beserta rantai pasoknya, mulai dari baterai, komponen, perangkat lunak, hingga layanan purnajual. Namun, Martin mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas produksi saja belum cukup untuk menciptakan industrialisasi yang kuat. Mahasiswa UNISSULA kunjungi pabrik motor listrik United "Karena itu yang harus dibangun sekarang justru bagian yang paling sulit digantikan, yaitu rantai pasok dan kemampuan penguasaan teknologi intinya," kata dia.