Membeli mobil bekas banjir bukan hanya soal risiko kerusakan komponen atau biaya perbaikan yang membengkak. Dari sisi keselamatan, ancamannya bisa jauh lebih serius. Air yang masuk saat banjir tidak hanya merusak bagian interior atau mesin, tetapi juga berpotensi mengganggu sistem kelistrikan dan modul elektronik yang berkaitan dengan keselamatan berkendara. Pemilik jasa inspeksi kendaraan PT Inspector Indonesia Expert, Lukman Hakim, menjelaskan bahwa bahaya terbesar mobil bekas banjir terletak pada kemungkinan rusaknya modul sistem keselamatan. Sejumlah mobil terendam banjir akibat hujan yang mengguyur di wilayah Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (24/1/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan dalam periode sepekan kedepan, hujan disertai petir terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. “Ketika banjir merendam modul SRS dan ABS yang fungsinya berkaitan langsung dengan keselamatan, potensi air masuk ke instrumen modulnya sangat besar dan hampir pasti menimbulkan error," ujar Hakim kepada Kompas.com, belum lama ini. ABS (Anti-lock Braking System) berfungsi mencegah roda terkunci saat pengereman mendadak. Jika sistem ini terganggu akibat korosi atau kerusakan komponen elektronik, risiko kecelakaan bisa meningkat. "Saat modul ABS bermasalah, yang biasanya disebabkan korosi pada valve ABS, bahaya yang mengintai adalah gangguan pada sistem pengereman," kata Hakim "Roda bisa mengunci saat pengereman darurat dan kendaraan berpotensi kehilangan kendali di jalan licin," katanya. Mobil kebanjiran yang masuk bengkel untuk dibersihkan. Kemudian tak kalah krusial adalah sistem SRS atau Supplemental Restraint System, yaitu sistem pengaman tambahan pada mobil yang bekerja untuk melindungi penumpang saat terjadi kecelakaan. SRS umumnya merujuk pada airbag, tetapi sebenarnya mencakup beberapa komponen pendukung lainnya. Secara umum, SRS meliputi airbag (kantung udara), sensor tabrakan, modul kontrol airbag, serta pretensioner sabuk pengaman. "Begitu juga dengan SRS. Jika sistemnya error, potensi bahayanya airbag tidak mengembang saat terjadi kecelakaan,” ujar Hakim. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang