Motor yang sempat terendam banjir kerap tampak normal saat pertama kali dinyalakan. Namun, kerusakan akibat air biasanya tidak langsung muncul di permukaan. Seiring waktu, sejumlah komponen mulai menunjukkan gejala penurunan fungsi, terutama pada bagian yang bersinggungan langsung dengan air dan lumpur banjir. Menurut Agung, teknisi Vansy Motor di Tangerang, tanda awal kerusakan biasanya muncul dari perubahan perilaku mesin dan kelistrikan. Komponen yang sebelumnya bekerja normal bisa mulai bermasalah beberapa hari atau bahkan minggu setelah motor terendam. “Ciri paling sering itu mesin susah langsam, tarikan berat, atau tiba-tiba mati. Banyak pemilik motor mengira ini masalah biasa, padahal dampaknya dari bekas terendam banjir,” kata Agung kepada Kompas.com, Sabtu (24/1/2026). Agung menjelaskan, sistem kelistrikan menjadi bagian yang paling cepat terdampak. Soket, kabel, dan konektor yang kemasukan air banjir rawan mengalami oksidasi. Gejalanya bisa berupa motor sulit dihidupkan, lampu redup, hingga indikator di panel instrumen yang menyala tidak normal. Kelistrikan motor. Selain kelistrikan, komponen mekanis seperti bearing dan laher juga sering mulai bermasalah. Air dan lumpur yang masuk dapat menghilangkan pelumas, sehingga menimbulkan bunyi kasar saat roda atau mesin berputar. Jika dibiarkan, keausan akan semakin parah dan berujung pada kerusakan permanen. Pada motor matik, bagian CVT menjadi area yang wajib dicurigai. Kampas ganda, roller, hingga v-belt yang terpapar air banjir bisa mengalami penurunan daya cengkeram. Ciri yang muncul biasanya getaran saat awal jalan atau akselerasi terasa tersendat. Agung menambahkan, oli mesin yang tercemar air juga menjadi indikator penting. Warna oli yang berubah menjadi kecokelatan atau berbusa menandakan adanya campuran air di dalam mesin. Kondisi ini berisiko merusak komponen internal jika motor tetap dipakai tanpa penggantian oli dan pengecekan lanjutan. “Motor bekas banjir itu tidak cukup hanya dikeringkan. Harus dicek satu per satu, karena kerusakan biasanya muncul bertahap. Kalau dibiarkan, biaya perbaikannya justru bisa lebih besar,” ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang