Transmisi CVT dikenal halus dan minim hentakan. Namun, karakter tersebut bisa berubah drastis ketika komponen di dalamnya kemasukan air. Kondisi ini kerap terjadi setelah mobil menerobos banjir atau akibat air masuk dari jalur yang tak disadari pemilik, seperti saat pencucian ruang mesin. Masalahnya, gejala awal CVT kemasukan air sering kali tidak langsung disadari karena masih terasa bisa digunakan. Menurut Fredy, Direktur Domo Transmisi, salah satu tanda paling awal yang muncul adalah bunyi tidak wajar dari area transmisi. “Biasanya mulai terdengar suara dengung, gesekan, atau seperti berisik halus saat mobil berjalan. Itu indikasi awal oli CVT sudah tercampur air,” katanya kepada Kompas.com, Kamis (25/12/2025). Fredy menjelaskan, air yang masuk ke dalam sistem CVT akan merusak kualitas oli transmisi. CVT pada mobil matik. Padahal, oli CVT berfungsi bukan hanya sebagai pelumas, tetapi juga sebagai media kerja untuk meneruskan tenaga dan mengatur tekanan hidrolik. Ketika tercemar air, kemampuan oli dalam menjaga tekanan dan melumasi komponen akan menurun drastis. Gejala berikutnya yang sering dirasakan pengemudi adalah perpindahan rasio CVT yang mulai terasa aneh. Mobil bisa terasa lebih berat saat awal jalan, respons pedal gas melambat, atau putaran mesin naik lebih tinggi dari biasanya tanpa diikuti akselerasi yang sepadan. “Kalau sudah agak parah, mobil terasa seperti selip. RPM naik tapi laju mobil lambat, atau muncul jeda saat akselerasi. Ini karena tekanan oli CVT sudah tidak stabil,” ujar Fredy. Selain itu, getaran halus juga bisa muncul, terutama saat mobil melaju pelan atau berhenti lalu kembali berjalan. Getaran ini sering disalahartikan sebagai masalah mesin atau kaki-kaki, padahal sumbernya berasal dari kerja CVT yang tidak lagi optimal akibat kontaminasi air. Fredy menambahkan, pada beberapa kasus, indikator peringatan di dasbor juga bisa menyala. Namun, tidak semua mobil langsung memunculkan lampu peringatan, sehingga banyak pemilik tetap menggunakan kendaraan tanpa menyadari kerusakan yang sedang berlangsung. “Yang berbahaya, banyak yang mengira masih aman karena mobil masih bisa jalan. Padahal, semakin lama dipakai, kerusakannya bisa merembet ke pulley, belt, sampai modul kontrol CVT,” ucapnya. Ia menegaskan, jika CVT dicurigai kemasukan air, langkah paling aman adalah segera menghentikan penggunaan dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Penggantian oli saja belum tentu cukup jika air sudah menyebar ke komponen internal atau sistem elektrikal. “Lebih cepat ditangani, peluang kerusakannya masih bisa dibatasi. Tapi kalau dibiarkan, ujungnya bisa overhaul CVT, dan biayanya jauh lebih mahal,” kata Fredy. Karena itu, pemilik mobil CVT diimbau lebih waspada setelah menerobos banjir atau melakukan pencucian mesin. Bunyi kecil, respons yang berubah, atau getaran halus sebaiknya tidak diabaikan, karena bisa menjadi sinyal awal CVT mulai bermasalah akibat air. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang