Jalan tol memiliki sistem drainase lebih terstruktur untuk mencegah terjadinya genangan air. Sehingga, ketika hujan turun diharapkan air langsung mengalir ke pembuangan. Dengan sistem tersebut, mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi akan lebih aman dan terhindar dari bahaya aquaplaning. Namun, belakangan ini justru beberapa ruas jalan tol banjir, seperti di Jakarta, tepatnya Jalan Tol Sedyatmo Bandara Soekarno-Hatta. Wawarisa Alnu Fistcar, Akademisi Universitas Muhammadiyah Semarang dan Praktisi Perkerasan Jalan mengatakan, jalan tol banjir bukan karena ada salah konstruksi atau material yang digunakan. “Material beton atau aspal jalan tol sudah sesuai, justru penyebab banjir karena ketinggian permukaan air laut yang sudah melebihi tinggi permukaan jalan,” ucap Fistcar kepada KOMPAS.com, Senin (19/1/2026). Prinsip kerja drainase jalan adalah mengalirkan air hujan dan air permukaan secepat mungkin dari badan jalan ke saluran pembuangan akhir, seperti sungai atau laut. Genangan sisa banjir yang terjadi pada Minggu (18/1/2026) masih terlihat di Jalan Cakung Cilincing Raya, Jakarta Utara, Senin (19/1/2026) “Air hujan yang jatuh di permukaan jalan segera dialirkan menjauh menggunakan kemiringan melintang perkerasan jalan, ke bahu jalan dan saluran samping,” ucap Fistcar. Air kemudian dialirkan melalui sistem saluran yang lebih besar menuju muara pembuangan akhir seperti sungai atau laut. “Bila tinggi permukaan air laut sudah lebih tinggi dari permukaan jalan, maka genangan air akan terjadi di jalan tol, pemompaan bisa solusi sementara,” ucap Fistcar. Solusi jangka panjangnya, menurut Fistcar, pemerintah sudah memikirkan bakal membangun Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa. Proyek infrastruktur strategis untuk membangun tanggul besar di sepanjang pesisir utara Jawa (Pantura). “Giant Sea Wall sudah dicanangkan oleh pemerintah, hanya saja belum terlaksana, nantinya tanggul ini akan tembus dengan tol laut,” ucap Fistcar. Genangan air di Ruas Tol Sedyatmo atau Tol Bandara Soekarno-Hatta belum sepenuhnya surut hingga Selasa pagi (13/1/2026). Proyek ini dirancang sebagai solusi menghadapi perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang mengancam wilayah pesisir Indonesia, khususnya Jawa. Nah, itu sebabnya jalan tol dengan sistem drainase bagus pun tetap mengalami banjir ketika curah hujan tinggi, khususnya di pesisir utara Jawa. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang