Octane booster merupakan produk yang diklaim dapat menaikkan nilai oktan (RON) pada bahan bakar. Sehingga, konsumen bisa mendapatkan bensin murah tapi kualitasnya setara dengan bensin mahal. Harapannya, performa kendaraan menjadi lebih baik, emisi rendah dan tidak bikin isi dompet terkuras. Namun, apakah klaim tersebut terbukti secara ilmiah? Anugerah Rio, pemilik Sar Speed Solo, mengatakan saat ini octane booster tidak begitu ramai seperti dulu, karena efektivitasnya tidak begitu besar. “Selisih tenaga yang dihasilkan tidak signifikan, begitu juga dengan harga bensin yang bisa dibilang terpaut tak banyak, yakni Pertalite Rp 10.000, sedangkan Pertamax Rp 12.000, sedangkan octane booster paling tidak Rp 50.000,” ucap Rio kepada KOMPAS.com, Rabu (19/11/2025). Maka dari itu, menurut Rio, saat ini justru tidak tepat penggunaan octane booster. Selain efektivitasnya rendah, produk ini juga pasarnya sudah kecil sehingga tidak ada penelitian yang gencar mengembangkannya. “Saat ini riset octane booster jarang sekali, selain itu pasarnya sudah hampir tak ada,” ucap Rio. Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen Jayan Sentanuhady, Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan klaim efektivitas octane booster banyak yang tidak relevan dengan fakta ilmiah. “Mereka ada yang mengklaim produknya bisa menaikkan oktan sampai 5 poin, itu sebenarnya hanya 0,5, contoh bensin RON 90 jadi RON 90,5, bukan RON 95,” ucap Jayan kepada KOMPAS.com, Selasa (18/11/2025). Dengan kenaikan RON tersebut, menurut Jayan juga tidak selalu memberikan dampak mampu mendongkrak tenaga kendaraan. Pasalnya, hanya mesin dengan spesifikasi kompresi tinggi yang bakal mampu. Alat pengukur kompresi mesin mobil “Misal mesin dengan rasio kompresi 9, maka cukup pakai bensin RON 90 atau RON 88, dikasih lebih tinggi kemampuannya tak akan naik, kecuali mesin dengan kompresi tinggi dikasih bensin berkualitas performanya bisa optimal,” ucap Jayan. Taqwa Suryo Swasono, pemilik bengkel Garden Speed di Cilandak Jakarta Selatan, mengatakan respons octane booster terhadap kendaraan tak selalu sama, tergantung dengan konfigurasi sistem dan teknologi. “Tak hanya soal kompresi mesin yang harus sesuai, tapi mesin dengan kompresi sama pun dampaknya bisa berbeda, ada yang jadi lebih responsif dan ada yang sama saja,” ucap Taqwa kepada KOMPAS.com, Selasa (18/11/2025). Ilustrasi mesin mobil dalam kondisi sehat Di mobil modern, terdapat knock sensor yang akan mengoreksi timing pengapian ketika terjadi perubahan kualitas BBM. Ketika RON menjadi tinggi, maka respon wajar mesin akan membuat timing pengapian mundur. “Tapi ada mobil yang knock sensornya tidak merespon, atau jutru maju, sehingga dampaknya tidak begitu terasa bagi pengendara, ini bisa terjadi karena sifat octane booster demikian,” ucap Taqwa. Meski demikian, penambahan octane booster memang akan membuat nilai RON menjadi lebih tinggi, harus diuji menggunakan tes laboratorium. “Terkait apakah ada efek samping, setiap konsumen bisa mengulas secara mandiri, karena efek samping tak akan muncul secara seketika, tapi mungkin butuh waktu sampai sekian lama pemakaian,” ucap Taqwa. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.