— Penggunaan cairan peningkat oktan atau octane booster kerap menjadi jalan pintas bagi pemilik kendaraan yang ingin mendongkrak performa mesin secara instan. Meski diklaim mampu meningkatkan angka oktan bensin secara drastis, ada risiko teknis yang mengintai jika pemilik kendaraan asal pilih produk. Harga BBM RON 92 belakangan ini terus meningkat. Banyak yang berinisiatif untuk membeli bensin bersubsidi Pertalite (RON 90), lalu dicampur octane booster, agar nilai oktannya naik. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, mengatakan, tingkat keamanan penggunaan zat aditif ini sangat bergantung pada kualitas dari octane booster itu sendiri. "Kalau octane booster-nya memang bagus, oktannya naik, tidak menyebabkan pembentukan deposit di dalam mesin, ya aman-aman saja," ujar Yuswidjajanto, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Pertamax Green 95 hadir di 170 SPBU Pulau Jawa, dorong energi hijau berbasis bahan baku lokal. Sifatnya Tidak Permanen Salah satu poin penting yang perlu dipahami pengendara adalah daya tahan zat aditif tersebut di dalam tangki bahan bakar. Berbeda dengan bahan bakar yang memang sudah dirancang memiliki oktan tinggi sejak dari kilang, oktan hasil "suntikan" aditif memiliki masa kedaluwarsa yang lebih cepat. "Tapi, octane booster itu tidak bertahan lama juga. Jadi, tidak bisa seperti bensin yang dibuat dari nafta yang oktannya tinggi. Jadi, kalau disimpan lama-lama turun juga," kata Yuswidjajanto. Kondisi ini patut diwaspadai bagi mereka yang jarang menggunakan kendaraannya. Jika bensin yang sudah dicampur zat aditif tersebut didiamkan terlalu lama di dalam tangki, efektivitasnya akan hilang, dan kualitas bahan bakar bisa kembali merosot. Abdurrahman ketika mengisi bensin di SPBU Underpass Kota Bekasi pada Jumat (5/7/24) Risiko Endapan dan Kerak alih mendapatkan performa maksimal, penggunaan produk berkualitas rendah justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mesin. Kandungan kimia yang tidak kompatibel dengan spesifikasi ruang bakar berpotensi meninggalkan sisa pembakaran yang merugikan. "Tapi, kalau octane booster-nya enggak bagus, nanti membuat deposit di dalam ruang bakar, ya malah celaka," ujarnya. Lebih lanjut, Yuswidjajanto menjelaskan bahwa tumpukan sisa pembakaran ini tidak hanya berdiam di satu titik, melainkan bisa merembet hingga ke sistem pembuangan. "Kalau kebetulan pembentukan depositnya tebal. Bahkan, bisa keluar ke knalpot, menyumbat di knalpotnya. Sehingga, akhirnya performa kendaraannya turun," katanya. Ilustrasi octane booster Kerak Karbon pada Piston Dampak jangka panjang yang paling nyata adalah pada komponen internal mesin. Yuswidjajanto menambahkan, penggunaan octane booster juga dapat menyebabkan munculnya kerak karbon pada bagian piston. Kerak ini jika dibiarkan menumpuk akan memicu gejala knocking atau mesin menggelitik. Dalam kondisi ekstrem, tumpukan karbon yang memanas bisa menyebabkan pre-ignition, di mana bahan bakar terbakar lebih awal sebelum busi memercikkan api, yang berisiko merusak struktur piston itu sendiri. Oleh karena itu, konsumen disarankan untuk lebih teliti dan tidak tergiur harga murah. Memastikan spesifikasi bahan bakar sesuai dengan rasio kompresi mesin tetap menjadi cara paling aman untuk menjaga performa kendaraan tetap prima dalam jangka panjang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang