Ilustrasi isi bensin di SPBU GULIR UNTUK LANJUT BACA Fenomena ini terlihat dari kebiasaan baru sebagian warga Singapura yang rutin bepergian lintas negara. Salah satunya Daryl, yang mengaku sejak Februari rutin pergi ke Johor Bahru setiap pekan. Selain berbelanja kebutuhan sehari-hari, ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengisi bahan bakar.Di Malaysia, kendaraan berpelat asing hanya diperbolehkan membeli BBM jenis RON97. Harga bensin tersebut berada di kisaran Rp19.000 per liter, jauh lebih rendah dibandingkan harga di Singapura. Sebagai perbandingan, bensin RON92 di Singapura dijual sekitar Rp40.000 per liter.Selisih harga yang mencapai lebih dari dua kali lipat ini menjadi alasan utama meningkatnya arus kendaraan menuju perbatasan. Bahkan, harga RON95 di Singapura saat ini berada di kisaran Rp40.000–Rp40.500 per liter, naik dari sekitar Rp34.000 pada awal Februari. Sementara itu, RON98 telah menyentuh sekitar Rp46.500 per liter.Meski demikian, aktivitas ini tidak sepenuhnya bebas risiko. Pemerintah Singapura menerapkan aturan ketat bagi kendaraan yang hendak keluar negeri. Setiap mobil diwajibkan memiliki tangki bahan bakar minimal tiga perempat penuh. Jika melanggar, pengemudi dapat dikenakan denda sekitar Rp6 juta serta diminta kembali untuk mengisi bensin.Di sisi lain, pemerintah Malaysia mulai memperketat pengawasan terhadap distribusi BBM bersubsidi. Bensin RON95 tetap dilarang untuk kendaraan asing, dan kini penggunaan kartu pembayaran asing untuk membeli bahan bakar subsidi juga dibatasi. Langkah ini diambil agar subsidi tetap dinikmati oleh masyarakat lokal. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Otoritas perbatasan Malaysia juga meningkatkan inspeksi guna mencegah penyalahgunaan barang bersubsidi. Meski begitu, pelaku usaha di Johor Bahru melihat tren ini sebagai peluang. Kunjungan warga Singapura meningkat, terutama ke SPBU dan pusat perbelanjaan di wilayah tersebut.Fenomena lintas negara demi bensin murah ini mencerminkan besarnya pengaruh disparitas harga energi antarnegara. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, konsumen semakin sensitif terhadap harga, bahkan rela menempuh perjalanan lintas batas demi menghemat pengeluaran harian.