Penggunaan baterai SLA (Sealed Lead Acid) pada motor listrik murah dan motor konversi lama semakin ditinggalkan karena bobotnya yang berat, dimensinya besar, serta efisiensinya rendah. Sejumlah pemilik motor listrik kemudian memilih mengganti baterai SLA dengan baterai lithium yang menawarkan performa lebih baik, jarak tempuh lebih jauh, dan daya tahan lebih stabil. Menurut Yansen Huang, SPV Technical BRT, tren perpindahan ini memang semakin kuat, terutama pada motor listrik low-end dan motor-motor konversi atau modifikasi. “Rata-rata motor yang masuk ke kami itu motor-motor yang dulunya baterainya SLA terus diganti jadi lithium,” ujar Yansen kepada Kompas.com (5/12/2025). Baterai motor listrik Greentech, berjenis Sealed Lead Acid (SLA) tapi bisa di swap Ia menambahkan bahwa baterai SLA memiliki siklus pengisian yang lebih pendek dan masa pakai yang cenderung lebih singkat. Kondisi ini membuat motor terasa lemah dan tidak responsif. Ketika diganti dengan lithium, peningkatannya bisa sangat terasa. “Kalau kapasitas sama, lithium bisa 2–3 kali lipat lebih kencang. Secara efisiensi, itu bisa 50 persen sampai 80 persen meningkat,” ucap Yansen. Baterai motor listrik Gesits Raya G Meski ada kendala pada beberapa model tertentu, bagi motor listrik murah keluaran lama atau motor konversi berbasis SLA, penggunaan baterai lithium jelas menjadi peningkatan yang signifikan. Selain performa yang naik dan efisiensi yang melonjak, menjadikan baterai lithium sebagai opsi peningkatan paling berdampak bagi pengguna motor listrik dengan biaya terbatas. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang