Motor CBU di Indonesia ternyata mengalami perubahan pasar dalam satu dekade terakhir. Dahulu, motor impor ini identik dengan simbol gengsi dan hanya dinikmati kalangan tertentu di kota besar. Namun, kini konsumennya semakin luas dan didominasi generasi muda yang memahami karakter motor yang mereka beli. Kamal Firhad, pemilik diler Safari Motor di Jakarta Barat, mengatakan pihaknya sudah aktif menjual motor CBU sejak sekitar 2013. Honda resmi merilis Honda CB1300 Super Four SP 2024 dan CB1300 Super Bol d'Or SP model year 2024 Menurut dia, perubahan perilaku konsumen sangat terasa dibanding era awal bisnis motor impor berkembang di Indonesia. “Sekarang enggak ribet kayak dulu jelasin teknologi dan fitur. Tinggal cari di Google atau Instagram. Aksesori juga lebih gampang. Lebih pintar sekarang, lebih smart banget pokoknya,” ujar Kamal, kepada Kompas.com (11/5/2026). Menurut Kamal, perkembangan internet dan media sosial membuat calon pembeli motor impor kini jauh lebih memahami spesifikasi, teknologi, hingga aksesori motor incarannya sebelum datang ke diler. Davidson Nightster Special Kondisi tersebut berbeda dibanding beberapa tahun lalu, ketika konsumen masih sangat bergantung pada penjelasan dari penjual untuk mengetahui detail produk. Tak hanya soal pengetahuan, pasar motor impor juga kini semakin luas secara geografis maupun usia konsumen. “Sekarang lebih luas pasarnya. Dulu mungkin banyak yang orang tua, sekarang banyak anak muda. Dulu paling Jakarta, Surabaya, Bandung, kota-kota besar. Sekarang Kalimantan Timur sampai Papua juga kirim. Paling banyak Bandung sih,” ucap Kamal. Komparasi Suzuki V-Strom 250SX dan Honda CRF250 Rally Fenomena ini menunjukkan bahwa motor impor kini bukan lagi sekadar barang eksklusif yang hanya beredar di kota metropolitan. Minat terhadap motor CBU mulai menyebar ke berbagai daerah, seiring berkembangnya komunitas motor hobi dan akses informasi digital. Kamal juga melihat adanya perubahan cara pandang konsumen terhadap motor impor. Jika dulu motor mahal identik dengan gengsi, bahkan beberapa hanya jadi barang koleksi. Kini pembeli lebih mempertimbangkan faktor kenyamanan dan gaya hidup. “Sekarang orang nyari motor itu buat lifestyle dan kenyamanan. Dulu mungkin buat gengsi. Sekarang orang lebih terbuka, lebih ngerti benar-benar motornya. Fungsional juga, buat touring dan sebagainya,” kata Kamal. Sunmori Ride In Peace Artinya, motor impor saat ini tidak hanya dijadikan koleksi atau simbol status sosial, tetapi juga dipakai untuk aktivitas berkendara sehari-hari, touring, hingga bagian dari gaya hidup otomotif. Perubahan karakter konsumen ini juga membuat pasar motor CBU tetap hidup, meski harga motor impor di Indonesia tergolong tinggi akibat pajak dan biaya impor yang besar. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang