Harga bensin yang terus naik di Amerika Serikat (AS) mulai mendorong lonjakan minat terhadap mobil listrik. Rata-rata harga bensin di AS kini mencapai 4,09 dollar per galon (3,78 liter) atau sekitar Rp 65.000 (asumsi kurs Rp 16.000 per dollar), naik 33 persen dibandingkan tahun lalu. Artinya, diperoleh Rp 17.195 per liter. Dilansir dari electrek, kondisi ini membuat konsumen mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai alternatif yang lebih hemat. Data Edmunds mencatat, minat terhadap kendaraan elektrifikasi naik hingga 23,8 persen dari total pencarian mobil pada pertengahan Maret 2026, menjadi level tertinggi tahun ini. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan CEO Tesla Elon Musk saat berdiri di depan mobil Tesla merah, ketika berbicara kepada awak media di South Portico, Gedung Putih, Washington DC, 11 Maret 2025. Bahkan, pencarian mobil listrik melonjak 17 persen hanya dalam satu pekan saat harga bensin mengalami kenaikan. Kenaikan BBM Lonjakan minat ini tidak lepas dari siklus kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berulang. Dalam beberapa tahun terakhir, harga bensin melonjak akibat konflik global atau gangguan pasokan minyak. Lonjakan harga BBM seperti saat ini sebetulnya bukan hal baru. Dalam dua dekade terakhir, pengendara di AS sudah beberapa kali mengalami kondisi serupa. Pada 2008, harga minyak dunia sempat menyentuh 147 dollar AS per barel, mendorong harga bensin ke 4,05 dollar AS per galon. Kemudian pada 2022, konflik Rusia-Ukraina membuat harga bensin melonjak hingga 5,01 dollar AS per galon. Kemudian pada 2026, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan AS-Israel ke Iran, mengganggu distribusi minyak global. Produsen otomotif China, BYD, berhasil menyalip Tesla sebagai penjual mobil listrik terbesar dunia pada 2025. Penjualan BYD naik signifikan, sementara pengiriman Tesla kembali menurun. Kondisi tersebut membuat biaya penggunaan mobil berbahan bakar minyak semakin tidak stabil. Sebaliknya, biaya listrik cenderung lebih terprediksi karena ditentukan di dalam negeri. Jika dihitung secara keseluruhan, biaya kepemilikan mobil bensin di AS rata-rata mencapai 779 dollar AS per bulan atau sekitar Rp 12,4 juta per bulan. Sebagai perbandingan, mobil listrik seperti Chevrolet Equinox EV dan Hyundai Ioniq 5 berada di kisaran 464 dollar - 470 dollar AS per bulan atau setara Rp 7,4 juta hingga Rp 7,5 juta per bulan. Dengan demikian, konsumen bisa menghemat 309–315 dollar AS per bulan atau sekitar Rp 5 juta per bulan. Tesla Cybertruck Cyberbeast Foundation Series Diprediksi terus naik Dengan selisih biaya yang cukup besar, kenaikan harga bensin menjadi salah satu faktor utama yang mendorong permintaan mobil listrik. Selain lebih hemat, kendaraan listrik juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap minyak yang harganya sangat fluktuatif akibat kondisi global. Seiring kondisi tersebut, tren permintaan mobil listrik diperkirakan akan terus meningkat, terutama jika harga bahan bakar tetap tinggi dalam jangka panjang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang