Ilustrasi mobil bekas Di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian pendapatan, mobil bekas semakin dilirik konsumen Indonesia. Pilihan ini dinilai lebih rasional dibandingkan memaksakan membeli mobil baru. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Syahda Sabrina, menyebut keterjangkauan menjadi isu utama. “Income rumah tangga meningkatnya tidak secepat pertumbuhan harga mobil,” ujarnya, dikutip VIVA Otomotif Jumat 9 Januari 2026.Kondisi tersebut menciptakan jarak yang makin lebar antara harga mobil baru dan kemampuan beli masyarakat. Akibatnya, konsumen cenderung mencari alternatif yang lebih realistis. Survei LPEM UI menunjukkan sekitar dua pertiga calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan awalnya memilih mobil bekas. Harga menjadi faktor dominan dalam pengambilan keputusan.Peneliti LPEM UI lainnya, Riyanto menilai pergeseran ini terjadi secara struktural. “Ada kelompok yang sebenarnya bisa membeli mobil baru, tapi tertunda dan akhirnya bergeser ke mobil bekas,” katanya. Fenomena ini ikut menjelaskan mengapa penjualan mobil baru turun sekitar 30 persen dibandingkan 2013. Namun jika digabung dengan pasar mobil bekas, total pasar otomotif justru tetap tumbuh. Untuk memahami pasar mobil bekas, LPEM UI melakukan web scraping dari platform OLX. Langkah ini diambil karena tidak adanya data resmi pasar mobil bekas. Hasilnya menunjukkan hubungan kuat antara resale value dan penjualan mobil baru. Model dengan depresiasi rendah cenderung memiliki penjualan baru yang lebih stabil.Salah satu contohnya adalah Toyota Innova. “Resale value-nya masih sekitar 73 persen dari harga OTR (on the road),” kata Syahda.Survei juga menguji potensi pergeseran dari mobil bekas ke mobil baru. Jika harga mobil baru turun 10 persen, sekitar 27 persen responden bersedia berpindah.Sebaliknya, menaikkan harga mobil bekas terbukti kurang efektif. Hanya sekitar 15 persen responden yang mau beralih ke mobil baru.Temuan ini menegaskan bahwa pasar mobil bekas tumbuh bukan karena preferensi semata. Mobil bekas menjadi pilihan rasional di tengah keterbatasan daya beli.