JAKARTA, KOMPAS.com - Transisi menuju kendaraan listrik terus menunjukkan perkembangan signifikan, terutama dari sisi teknologi dan efisiensi biaya produksi. Salah satu faktor kunci yang selama ini menjadi penentu mahalnya harga mobil listrik adalah baterai, yang porsinya paling besar dalam struktur biaya kendaraan tersebut. Namun, seiring perkembangan industri baterai global, harga per kWh terus mengalami penurunan. Baterai mobil listrik LG High-Voltage Mid-Nickel Cell to Pack (CTP). Baterai ini bisa menempuh jarak 600 km sekali charge. Kondisi ini diyakini akan menjadi titik balik penting yang dapat mengubah peta persaingan antara mobil listrik dan mobil bermesin konvensional di pasar otomotif. Menurut analisis terbaru BloombergNEF, harga paket baterai turun 8 persen sejak 2024, kini berada di level 108 dollar AS per kWh jelang akhir tahun 2025. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan, begitu harga baterai per kWh bisa tembus 67 dollar AS, maka harga mobil listrik tanpa subsidi apa pun akan sama dengan harga mobil bensin. Baterai mobil listrik buatan LG-Hyundai "Pada saat itu, (produsen) mobil bensin pusing. Kenapa? Karena harga mobil listrik komponennya lebih sedikit," ujar Yannes kepada Kompas.com saat ditemui di Bali, belum lama ini. "Otomatis biaya produksi lebih murah. Terus, kita-kita yang biasa pakai smartphone. Butuh kendaraan yang bisa connected, bisa kita banget, dan sebagainya. Meskipun, mobil bensin juga bisa," kata Yannes. "Komponen yang besar dari mobil listrik cuma baterai. Komponen tersebut sudah berkontribusi sekitar 30 persen hingga 40 persen dari mobil, tergantung spesifikasi mobilnya," ujar Yannes. "Selain itu, ada drivetrain dan controller, sudah," kata Yannes. Dengan kondisi tersebut, ketika harga baterai terus turun dan teknologi semakin matang, mobil listrik diprediksi tidak hanya akan sejajar dari sisi harga, tetapi juga semakin unggul dalam aspek biaya kepemilikan jangka panjang. Hal ini berpotensi mempercepat pergeseran konsumen dari mobil bensin ke kendaraan listrik secara masif. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang