Kemacetan masih menjadi bagian dari aktivitas harian pengendara di Jakarta dan sekitarnya. Pada jam sibuk, kendaraan kerap bergerak sangat pelan bahkan stop and go dalam waktu lama. Situasi tersebut membuat mesin mobil bekerja lebih berat karena suhu cepat meningkat, terutama ketika sistem pendingin tidak dalam keadaan optimal. Namun, tak jarang pemilik mobil menggunakan air mineral sebagai pengganti coolant radiator, terutama saat darurat di perjalanan. Menurut Fendy, Direktur PT Autokooling Jaya Nusantara (AJN), distributor resmi merek radiator asal Jepang, Koyorad, di Indonesia, air mineral sebenarnya tidak cocok digunakan sebagai cairan radiator, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Zat Mineral “Air mineral mengandung zat mineral yang dapat menimbulkan korosi pada blok mesin. Korosi tersebut lama-kelamaan bisa menyumbat tube atau pipa kapiler radiator,” kata Fendy kepada Kompas.com, Jumat (29/5/2026). Fendy menjelaskan, radiator bekerja dengan mengalirkan coolant melalui jalur-jalur kecil untuk membantu menurunkan suhu mesin. Bila saluran mulai tertutup kerak atau karat akibat kandungan mineral pada air, proses pendinginan menjadi tidak maksimal. Ilustrasi menuang coolant ke radiator. Akibatnya, suhu mesin bisa lebih cepat meningkat, terutama ketika mobil dipakai menghadapi kemacetan panjang seperti di jalanan Jakarta. Dalam kondisi tertentu, masalah tersebut bahkan dapat memicu overheat. Ia mengatakan, penggunaan air mineral kadang memang sulit dihindari saat keadaan darurat, misalnya ketika coolant habis di tengah perjalanan. Namun, ada pilihan yang lebih aman dibanding air mineral biasa. “Kalau darurat bisa menggunakan air destilasi karena bebas mineral. Tetapi yang paling baik tetap coolant,” ujar Fendy. Antikarat Selain itu, pemilik kendaraan juga disarankan memilih coolant yang mengandung antikarat untuk membantu menjaga komponen cooling system tetap awet. Sebab, cairan pendingin bukan hanya berfungsi menjaga suhu mesin, tetapi juga melindungi bagian dalam radiator dan blok mesin dari korosi. Fendy menambahkan, bila terpaksa menggunakan air biasa saat darurat, pemilik kendaraan sebaiknya tidak membiarkannya terlalu lama berada di dalam radiator. “Kalau sudah sampai tujuan atau menemukan bengkel, sebaiknya langsung dikuras dan diganti coolant agar tidak menimbulkan kerak maupun karat di sistem pendingin,” kata Fendy. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang