— Pemandangan jalanan di Guangzhou, China, yang bising perlahan digantikan oleh kesunyian kendaraan listrik yang melesat di setiap sudut kota. Bukan hanya mobil listrik (EV) yang marak di jalan raya, namun kehadiran motor listrik dan sepeda listrik atau e-bike menjadi fenomena yang jauh lebih mencolok. Di kota industri ini, kendaraan roda dua bertenaga baterai tersebut menjamur, menjadi salah satu tulang punggung mobilitas warga dan sektor logistik. Motor listrik di Guangzhou, China. Meski memberikan solusi transportasi bebas emisi, keberadaan motor listrik ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi pejalan kaki. Masalah utamanya adalah suara mesin yang nyaris tidak terdengar. Afung, seorang pemandu sekaligus penerjemah lokal di Guangzhou, menceritakan pengalamannya menghadapi dinamika lalu lintas ini. Menurutnya, pejalan kaki kini harus memiliki "mata di belakang kepala" karena motor listrik sering kali berbagi ruang di trotoar. "Motor listrik tidak ada suara, jadi tidak terdengar, dan kencang juga dibawa," ujar Afung kepada wartawan di Guangzhou, Rabu (23/4/2026). Motor listrik di Guangzhou, China. Menurut Afung, pemerintah China sebenarnya bukan tanpa aturan. Ada batasan ketat mengenai spesifikasi dan kecepatan kendaraan roda dua listrik demi menjaga keamanan publik. "Sebetulnya menurut pemerintah ada pembatasan, yaitu tidak boleh lebih dari 25 km/jam," jelas Afung. Namun, dalam praktiknya, aturan tersebut sering kali berbenturan dengan tuntutan pekerjaan, terutama bagi para kurir pengantar makanan atau barang di Guangzhou. Motor listrik di Guangzhou, China. Kecepatan adalah kunci sehingga banyak kendaraan yang dipacu melampaui batas normal. "Tapi kita lihat itu kurir yang mereka bawa itu semua lebih bisa 40 sampai 60 km/jam juga ada," kata Afung. Aturan dan realitas ini menjadi pemandangan sehari-hari. Meski polisi lalu lintas kerap melakukan penertiban dan razia, mobilitas para pengendara ini sulit dibendung. Diler mobil listrik BYD di Guangzhou, China. Afung menyebutkan bahwa denda tetap membayangi yang melanggar, namun menangkap para pelanggar di tengah padatnya arus lalu lintas Guangzhou bukanlah perkara mudah. "Itu kalau ditangkap polisi memang bisa didenda, tapi polisinya susah tangkap, mereka kurir itu terlalu hebat," katanya. Transformasi Hijau Fenomena di Guangzhou dan banyak kota di China ini mencerminkan betapa cepatnya transisi energi di China. Kemudahan akses terhadap teknologi baterai dan dukungan infrastruktur pengisian daya membuat kendaraan listrik menjadi pilihan utama masyarakat. Guangzhou tetap menjadi contoh nyata bagaimana sebuah kota besar bisa "berhenti bernapas" dari asap knalpot, meski dibayar dengan kewaspadaan buat pejalan kaki. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang