Selama beberapa tahun terakhir, head unit layar sentuh berukuran besar menjadi bagian penting pada kabin mobil modern. Banyak pabrikan menjadikan layar sentuh sebagai nilai jual utama, menggantikan tombol-tombol fisik yang lebih sederhana. Namun, di balik tampilan modern dan praktis, ternyata head unit layar sentuh ternyata menyimpan risiko. Studi terbaru yang dilakukan University of Washington (UW) bersama Toyota Research Institute membuktikan, penggunaan layar sentuh saat berkendara benar-benar dapat mengganggu konsentrasi dan membahayakan keselamatan. Interior Mobil Sport Listrik Neta GT Penelitian berjudul “Touchscreens in Motion: Quantifying the Impact of Cognitive Load on Distracted Drivers” ini dipublikasikan pada ajang 38th Annual ACM Symposium on User Interface Software and Technology, September 2025. Dalam penelitian tersebut, 16 peserta diminta menyetir di simulator sambil menggunakan layar sentuh mobil. Peneliti memantau gerak mata, gerak tangan, pelebaran pupil, hingga respons kulit untuk melihat tingkat stres dan beban pikiran saat mengemudi. "Singkatnya, ketika pengemudi diminta melakukan tugas-tugas layar sentuh rutin sambil berkendara di simulasi kota, kemampuan mengemudi dan akurasi penggunaan layar sama-sama menurun. Semakin rumit tugasnya, semakin besar penurunan performanya," tulis Carscoops, dikutip Rabu (24/12/2025). Interior mobil listrik Wuling Air ev Hasilnya menunjukkan, penggunaan layar sentuh menurunkan akurasi dan kecepatan respons lebih dari 58 persen dibanding saat tidak berkendara. Pada waktu yang sama, penyimpangan lajur meningkat lebih dari 40 persen. Artinya, ketika sibuk dengan layar maka pemgemudi tidak hanya menjadi lebih lambat merespons, tetapi juga lebih sulit menjaga kendali kendaraan. Studi ini juga menegaskan bahwa masalahnya bukan hanya soal mengetik atau bermain media sosial. Sebab, yang diuji justru aktivitas yang dianggap biasa dilakukan saat berkendara, seperti mengganti musik, mengatur sistem hiburan, hingga mengakses menu kendaraan. Solusi Mengembalikan semua fungsi ke tombol fisik saat ini sulit dilakukan, karena tren layar sentuh sudah terlanjur kuat. Selain itu, layar dianggap lebih murah, fleksibel, dan mudah dikembangkan oleh pabrikan. GWM pamerkan kokpit cerdas di dalam kabin mobil dengan sebutan Coffe OS 3 Namun studi ini menyarankan beberapa langkah. Pertama, produsen perlu menyederhanakan menu agar fungsi penting tidak tersembunyi dalam banyak lapisan, serta memastikan fitur yang sering digunakan tetap mudah dijangkau. Selain itu, sistem infotainment disarankan mampu mempelajari kebiasaan pengemudi, memprediksi perintah yang mungkin digunakan, dan menampilkan tombol dengan ukuran yang lebih besar dan jelas sehingga tidak memakan banyak perhatian. Rekomendasi lainnya adalah penggunaan sistem yang bisa mendeteksi beban pikiran pengemudi. Jika sistem mendeteksi pengemudi sedang tidak fokus, mobil dapat membatasi fungsi tertentu atau memberikan peringatan agar pengemudi kembali fokus ke jalan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang