Skema kepemilikan dan penggunaan baterai menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan ekosistem sepeda motor listrik. Pengamat transportasi Yannes Martinus Pasaribu menilai, kebutuhan setiap pengguna kendaraan listrik berbeda. Karena itu, menurut dia, tidak tepat jika satu model bisnis dipaksakan untuk seluruh pengguna. Termasuk untuk proyek motor listrik nasional (Molinas). Perbedaan kebutuhan tersebut terlihat antara pengguna pribadi dengan pengguna produktif, seperti pengemudi ojek online (ojol) yang memiliki jarak tempuh harian jauh lebih tinggi. "Menurut saya, Molinas jangan dipaksakan menggunakan satu model bisnis. Karena kebutuhan orang yang menempuh 20 km sehari tentu berbeda dengan ojol yang bisa menempuh 100 km lebih," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto Setelah itu, menurut Yannes, model bisnisnya bisa fleksibel. Konsumen ritel dapat membeli baterai dengan garansi dan buyback, atau menyewa untuk menekan harga awal motor. Pilihan Kepemilikan Baterai Menurut Yannes, salah satu pilihan yang bisa diterapkan adalah konsumen ritel membeli baterai secara langsung. Skema tersebut dapat dilengkapi dengan garansi dan program buyback untuk memberikan kepastian kepada pemilik ketika baterai sudah mengalami penurunan performa. "Pengguna produktif bisa membeli motor tanpa baterai kemudian berlangganan swap, sedangkan pengguna pribadi tetap mempunyai pilihan mengisi di rumah," ujar Yannes. Pilihan lainnya adalah menyewa baterai. Skema ini dapat membantu menekan harga awal kendaraan karena konsumen tidak harus membeli baterai sekaligus ketika membeli motor listrik. Nusantara Rama dan Nusantara Maju menggunakan sistem swap battery dari Oyika. Sementara itu, pengguna dengan intensitas pemakaian tinggi dapat menggunakan skema berbeda. Motor dibeli tanpa baterai, kemudian kebutuhan energi dipenuhi melalui layanan battery swap berlangganan. Dengan pendekatan tersebut, satu kendaraan listrik tidak harus memiliki pola kepemilikan baterai yang sama dengan kendaraan lainnya. Standar Baterai yang Perlu Diseragamkan Menurut Yannes, hal yang justru perlu dibuat seragam adalah standar baterainya. Mulai dari dimensi, konektor, komunikasi sistem manajemen baterai atau battery management system (BMS), aspek keselamatan, hingga informasi state of health (SoH). Baterai motor listrik Gova, bisa ditukar di SPBKLU minimarket Standardisasi ini menjadi penting agar baterai tidak hanya dapat digunakan pada satu merek atau satu ekosistem tertentu. "Infrastruktur swap juga jangan dibangun merata tanpa melihat permintaan. Prioritaskan koridor dengan utilisasi tinggi," kata Yannes. Dengan baterai yang memiliki standar interoperabel, konsumen maupun pengguna produktif memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan cara mendapatkan dan menggunakan baterai. "Jadi, Molinas membutuhkan interoperabilitas baterai dan multi-skema bisnis, bukan satu baterai, satu merek, satu kabinet, lalu masing-masing membangun ekosistem tertutup sendiri," ujarnya. Bagi pengguna pribadi dengan jarak tempuh harian relatif rendah, misalnya, pengisian daya di rumah masih dapat menjadi pilihan. Sementara pengguna yang menempuh jarak lebih jauh dapat memanfaatkan layanan sewa atau battery swap. Konsep tersebut membuat model bisnis dapat berkembang mengikuti karakter pengguna, tanpa harus mengubah standar dasar baterai yang digunakan.