Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Moeldoko bicara soal nasib mobil listrik setelah insentif disetop pada akhir 2025. Ini kata Moeldoko.Ada tiga instrumen insentif yang diberikan pemerintah untuk mobil listrik dalam kurun dua tahun terakhir. Insentif tersebut meliputi bebas Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) 10%, hingga bea masuk 0%.Bebas PPnBM berlaku buat mobil listrik impor maupun mobil listrik produksi lokal, sementara PPN DTP berlaku buat mobil listrik produksi lokal dengan tingkat kandungan lokal minimal 40%, dan bea masuk 0% diberlakukan untuk mobil listrik impor dengan bank garansi sebagai jaminan dan kewajiban memproduksinya secara lokal mulai awal 2026. Meski disetopnya insentif bakal membuat harga mobil listrik melonjak, Moeldoko mengatakan bahwa industri sudah paham konsekuensi tersebut. Yang bakal terdampak justru dari konsumen, karena mereka tak lagi bisa menikmati mobil listrik dengan harga murah."Sebenarnya dari dunia industri sudah paham, karena pada saat awal-awal kita membuat regulasi, insentif itu hanya diberikan dua tahun ya. Jadi bagi para industri yang ingin membangun mobil listrik di Indonesia, itu sudah tahu batasannya," kata Moeldoko di Evolution Indonesia Forum yang digelar CNN Indonesia di Jakarta (3/2/2026)."Persoalannya bagi masyarakat Indonesia yang selama ini sudah pernah merasakan, dengan adanya perubahan atau pencabutan insentif ini pasti sedikit terkejut. Tetapi, saya tetap yakin masyarakat akan melihat manfaat yang jauh melebihi dari insentif itu sendiri," tambah Moeldoko.Moeldoko menegaskan, tanpa insentif pun, nantinya mobil listrik akan memiliki harga jauh lebih murah, dibandingkan mobil konvensional. Faktor utamanya, perkembangan teknologi baterai yang semakin cepat, sehingga harganya akan semakin kompetitif. Selain itu, komponen mobil listrik pun sederhana, hanya baterai, motor, dan controller."Sampai saat ini kalau harga baterai di mobil listrik itu masih menempati komponen termahal, ke depannya menurut saya nggak. Harga (mobil listrik) ke depan akan semakin murah," terang Moeldoko.Moeldoko juga menekankan bahwa harga mobil listrik akan semakin murah dengan sendirinya lantaran persaingan merek di industri ini sangat kompetitif. Pabrikan berlomba-lomba memberikan harga terbaik. "Habis beli harga sekian, tiga bulan berikutnya langsung drop lagi (harganya), ini menunjukkan bahwa kompetisi itu luar biasa," katanya.Selain itu menurut Moeldoko, mobil listrik memiliki lebih banyak varian dan model ketimbang mobil konvensional, sehingga pabrikan mobil listrik benar-benar berusaha untuk memahami needs konsumen. "Dengan alasan-alasan itu saya percaya kebijakan (insentif) itu tidak banyak berpengaruh," bilangnya lagi.