PT Chery Sales Indonesia (CSI) optimistis pasar otomotif nasional akan tumbuh positif tahun depan, terutama di segmen kendaraan elektrifikasi. Assistant President PT CSI, Zeng Shuo menyampaikan, hal tersebut seiring kesadaran atas terhadap mobil ramah lingkungan yang terus meningkat, baik untuk jenis hybrid maupun listrik murni (battery electric vehicle/BEV). “Sekarang masyarakat sudah lebih aware untuk mobil listrik, juga hybrid dan plug-in hybrid," kata dia di Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/11/2025). Chery Tiggo 8 CSH di GIIAS 2025 Zeng Shuo menjelaskan, tanggapan konsumen terhadap produk elektrifikasi Chery sejauh ini cukup positif. “Feedback dari konsumen cukup bagus, mereka menikmati teknologi baru karena konsumsi bahan bakar lebih efisien, stabil saat dikendarai, dan performanya meningkat,” ujarnya. Menurut Zeng Shuo, fase awal adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia perlu terus diperkuat dengan dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten. “Biasanya, perubahan besar dalam industri otomotif terjadi karena kebijakan. Jadi, kami berharap shifting ke mobil listrik di Indonesia bisa berlanjut dengan dukungan policy yang tepat,” tuturnya. Ia kemudian mencontohkan perkembangan di China yang berhasil mendorong transformasi besar dalam satu dekade terakhir. an, pangsa pasar kendaraan energi baru (New Energy Vehicle/NEV) di Negeri Tirai Bambu masih di bawah 5 persen. Chery Automobile resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Hong Kong (HKEX) pada 25 September 2025 dengan kode perdagangan 9973.HK. Kini, lebih dari separuh mobil yang dijual di sana merupakan kendaraan elektrifikasi, baik BEV, hybrid, maupun range-extended EV (REV). “Kami percaya tren serupa juga akan terjadi di pasar global. Dari tahun 2020 yang hanya sekitar 5 persen, kami perkirakan pada 2030 pangsa pasar global kendaraan elektrifikasi akan mencapai 80 persen,” ucapnya. Zeng Shuo menambahkan, arah kebijakan Indonesia yang mendorong percepatan elektrifikasi memberi keyakinan bagi Chery untuk memperluas investasi di dalam negeri. Diketahui, pemerintah Indonesia saat ini tengah mengkaji kelanjutan berbagai insentif kendaraan listrik yang dijadwalkan berakhir pada 2025. Salah satunya adalah insentif pajak pertambahan nilai (PPN) ditanggung pemerintah (DTP) sebesar 10 persen untuk mobil listrik dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 40 persen, serta PPN DTP 3 persen untuk mobil hybrid. Chery iCar V23 SUV elektrik bergaya bold, hadir dengan dua pilihan tenaga dan kabin yang lapang. Selain itu, pembebasan bea masuk impor kendaraan listrik utuh (CBU) juga masih berlaku hingga 31 Desember 2025. Setelah periode tersebut berakhir, produsen diwajibkan melakukan perakitan lokal (CKD) dengan rasio produksi yang sebanding dengan jumlah unit impor. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.