Musim hujan membuat jalan lebih mudah berlubang, terutama jalan aspal. Air hujan yang masuk ke dalam lapisan aspal dapat meresap melalui retakan kecil atau pori-pori permukaan. Ketika air sudah berada di bawah lapisan aspal, daya ikat antara aspal dan batu agregat menjadi melemah, sehingga struktur jalan kehilangan kekuatannya. Selain itu, genangan air mempercepat kerusakan karena beban kendaraan yang melintas menekan air di dalam lapisan jalan. Tekanan berulang dari mobil dan truk membuat aspal terkelupas sedikit demi sedikit hingga akhirnya terbentuk lubang. Ketua Subkomite Lalu Lintas Angkutan Jalan KNKT, Ahmad Wildan mengatakan ada 3 faktor utama penyebab jalan aspal berlubang di musim hujan. “Pertama air permukaan, jika air menggenangi jalan, saat surut bisa membawa agregat jalan sehingga menyebabkan jalan berlubang,” ucap Wildan kepada KOMPAS.com, Selasa (17/2/2026). Kerusakan biasanya diawali dari retak halus, kemudian berkembang menjadi lubang kecil, dan akhirnya membesar jika tidak segera diperbaiki. Karena itu, musim hujan sering identik dengan meningkatnya jumlah jalan rusak. Ilustrasi jalan berlubang. Kondisi ruas Jalan Gedoran Baru dekat Terminal Depok Baru yang penuh lubang dan genangan, Jumat (13/2/2026). Drainase yang buruk juga menjadi faktor utama. Jika saluran air tidak lancar, air akan mengendap lama di permukaan jalan. Kondisi ini mempercepat pelapukan aspal, apalagi pada jalur dengan lalu lintas berat seperti truk bermuatan. Perubahan suhu selama hujan turut berpengaruh. Saat hujan, suhu jalan turun dan membuat aspal menjadi lebih kaku dan rentan retak. Retakan inilah yang menjadi pintu masuk air untuk merusak lapisan di bawahnya. “Selain itu, air permukaan bisa naik, dan dapat menggerus pondasi jalan. Sehingga jalan bergeser, retak dan sebagainya,” ucap Wildan. Jalan berlubang di belokan menuju Jalan Mitra Bahari dari arah Jalan Pakin, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (2/2/2026) Tanah dasar yang jenuh air juga bisa melemah. Ketika tanah di bawah jalan menjadi lunak karena menyerap air, lapisan aspal di atasnya kehilangan penopang sehingga mudah amblas dan berlubang. “Air kawasan yang berasal dari sekitar jalan, seperti daerah sungai, penggundulan hutan dan sebagainya, itu juga dapat merusak jalan seperti kasus jalan rusak di akses menuju obyek wisata Guci di Tegal,” ucap Wildan. Itulah sebabnya jalan di daerah dengan curah hujan tinggi atau sering banjir cenderung lebih cepat rusak dibanding wilayah yang lebih kering. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang