Komitmen Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 berjalan beriringan dengan penguatan sektor otomotif dan transportasi Nasional. Pemerintah secara konsisten mendorong transisi energi yang tidak hanya berfokus pada penurunan emisi gas buang, tetapi juga memperkuat ketahanan energi serta menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sektor otomotif dan industri pendukungnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ketahanan energi merupakan fondasi vital untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika global. "Pertumbuhan ekonomi di Semester satu itu sudah 5,45 persen. Indonesia dibandingkan negara ASEAN atau di negara G20 termasuk top three di atas. Dan kita bisa mencapai pertumbuhan tinggi dengan inflasi yang rendah," ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (29/8/2026). Diversifikasi Energi dan Penguatan Industri Otomotif Airlangga juga mengatakan, Pemerintah menempuh langkah strategis melalui diversifikasi energi domestik untuk menekan ketergantungan impor energi fosil. Di sektor otomotif dan transportasi darat, penerapan mandatori Biodiesel 50 (B50) terus diperluas penggunaannya guna menjaga stabilitas harga energi sekaligus menahan tekanan inflasi. "Di sisi lain, sektor manufaktur dan rantai pasok industri otomotif menjadi motor penggerak investasi. Data BKPM mencatat investasi pada Semester I 2026 tumbuh sekitar 7,2 persen," kata Airlangga. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto usai berdialog dengan delegasi Uni Eropa dan para Duta Besar Negara-Negara Anggota Uni Eropa di Jakarta, Jumat (21/8/2026). Lonjakan aktivitas ini turut didorong oleh peningkatan kebutuhan energi serta ekspansi industri penunjang kendaraan ramah lingkungan. Pemerintah juga aktif mendorong pengembangan energi terbarukan guna memasok kebutuhan fasilitas produksi komponen otomotif dan pabrik kendaraan listrik di dalam negeri. Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi Transformasi sektor transportasi diarahkan secara komprehensif dengan mengandalkan berbagai teknologi ramah lingkungan yang disesuaikan dengan karakteristik moda dan kebutuhan operasional kendaaraan. Mulai dari optimalisasi pemanfaatan B50 pada kendaraan komersial, lalu akselerasi ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai untuk transportasi publik maupun logistik, serta pengembangan bahan bakar nabati generasi lanjutan serta eksplorasi teknologi hidrogen sebagai alternatif energi masa depan bagi sektor transportasi berat. Melalui pendekatan teknologi yang beragam ini, sektor otomotif nasional diharapkan mampu menjadi tulang punggung dalam menekan emisi karbon secara signifikan, tanpa harus mengorbankan produktivitas dan daya saing logistik nasional.