Pengembangan mobil listrik nasional I2C (Indigenous Indonesian Car) tidak diarahkan untuk mengisi segmen premium atau pasar terbatas. Sejak awal, proyek kendaraan listrik karya anak bangsa ini diproyeksikan menyasar masyarakat luas agar elektrifikasi kendaraan bisa diakses lebih merata. “Mobil ini kami arahkan untuk masyarakat luas, bukan segmen elit,” ujar Harsusanto, Presiden Direktur PT Teknologi Militer Indonesia, kepada Kompas.com, Kamis (15/1/2026). Menurut Harsusanto, keterjangkauan harga menjadi kunci utama agar I2C dapat diterima pasar. Tanpa banderol yang sesuai dengan daya beli masyarakat, kendaraan listrik nasional berisiko gagal menarik minat konsumen sejak awal. “Kami ingin kendaraan listrik yang bisa dijangkau masyarakat,” kata Harsusanto. Ia menilai, penetapan harga I2C harus realistis dan mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional. Pendekatan ini dinilai lebih relevan dibanding sekadar menghadirkan teknologi tinggi yang sulit dijangkau konsumen. “Harga harus realistis agar daya beli bisa masuk,” ujarnya. Harsusanto menegaskan bahwa pengembangan I2C tidak dimaksudkan sebagai proyek eksklusif atau ajang unjuk teknologi semata. Mobil listrik konsep I2C di GIIAS 2025. Fokus utama diarahkan pada fungsi dan kemampuan kendaraan untuk digunakan secara luas oleh masyarakat. “Kalau mahal, ya bakalan gagal dari awal,” kata Harsusanto. Karena itu, pengembangan I2C dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi biaya produksi serta pemanfaatan ekosistem industri dalam negeri. Dengan struktur biaya yang terkendali, harga jual kendaraan diharapkan tetap kompetitif. “Ini bukan proyek pamer teknologi semata,” ucap Harsusanto. Pendekatan tersebut diharapkan membuat I2C tidak hanya menjadi simbol mobil nasional, tetapi juga solusi mobilitas listrik yang realistis dan relevan bagi masyarakat Indonesia. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang