Masih banyak pengguna kendaraan yang belum memahami pentingnya memilih bahan bakar sesuai angka oktan atau Research Octane Number (RON). Penggunaan BBM dengan oktan yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan bisa memicu masalah serius pada mesin, salah satunya detonasi atau yang sering disebut ngelitik. Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pakar bahan bakar dan pelumas, detonasi merupakan kondisi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar dengan sendirinya, tanpa menunggu percikan bunga api dari busi. "Detonasi adalah pembakaran yang terjadi tidak sesuai timing, campuran udara dan bahan bakar bisa terbakar sendiri sebelum dipicu busi," kata Tri kepada Kompas.com, belum lama ini. Tri menjelaskan, fenomena ini biasanya terjadi ketika bahan bakar yang digunakan memiliki ketahanan terhadap tekanan dan suhu yang lebih rendah, atau dalam hal ini angka oktannya tidak sesuai dengan kebutuhan mesin. Akibatnya, pembakaran terjadi tidak terkontrol dan menimbulkan tekanan tinggi secara tiba-tiba di dalam ruang bakar. Dalam jangka pendek, gejala detonasi bisa dikenali dari munculnya suara ngelitik pada mesin, terutama saat berakselerasi atau ketika kendaraan dibebani. Namun, jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya bisa jauh lebih serius. Warga di Teluk Alulu, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis Pertalite dan Pertamax. Kondisi ini membuat harga eceran kerap melambung tinggi, bahkan sempat mencapai Rp20.000 per liter. "Kalau terjadi berulang dalam jangka panjang, temperatur di dalam ruang bakar bisa sangat tinggi pada titik tertentu, dan ini berisiko merusak komponen mesin," ujar Tri. Ia menambahkan, salah satu komponen yang paling rentan terdampak adalah piston. Sebab, piston umumnya terbuat dari material aluminium yang memiliki titik leleh lebih rendah dibandingkan komponen lain di dalam mesin. Ketika detonasi terjadi terus-menerus, panas berlebih dapat menyebabkan permukaan piston mengalami kerusakan, bahkan berpotensi meleleh dalam kondisi ekstrem. Hal ini tentu akan berujung pada penurunan performa hingga kerusakan mesin yang membutuhkan biaya perbaikan tidak sedikit. Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen Selain itu, detonasi juga berdampak pada efisiensi dan emisi kendaraan. Pembakaran yang tidak sempurna membuat tenaga mesin menurun, sehingga pengemudi cenderung menekan pedal gas lebih dalam untuk mendapatkan performa yang diinginkan. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan konsumsi bahan bakar dan memperbesar emisi gas buang. Artinya, penggunaan BBM yang tidak sesuai bukan hanya merugikan dari sisi mesin, tetapi juga berdampak pada lingkungan. Tri pun mengingatkan agar pengguna kendaraan selalu mengikuti rekomendasi pabrikan terkait jenis bahan bakar yang digunakan. Sebab, setiap mesin sudah dirancang dengan spesifikasi tertentu, termasuk kebutuhan angka oktan agar pembakaran bisa berlangsung optimal. Ilustrasi pengisian BBM Pertamax Turbo di SPBU Pertamina. Harga Pertamax Turbo terbaru. Harga Pertamax September 2025. Harga Pertamax Turbo hari ini. Harga Pertamax Turbo 2025. "Yang paling tahu kebutuhan mesin itu adalah pabrikan. Jadi sebaiknya gunakan bahan bakar sesuai rekomendasi agar performa, efisiensi, dan umur mesin tetap terjaga," kata Tri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang