Lonjakan harga BBM nonsubsidi mendorong sebagian pemilik kendaraan mencari cara menekan pengeluaran, termasuk dengan menurunkan kualitas bahan bakar yang digunakan. Pada mobil modern, langkah ini kerap dianggap aman karena didukung teknologi seperti sensor knock dan ECU adaptif. Namun di balik kemampuan mesin menyesuaikan diri, terdapat biaya tersembunyi yang tidak selalu disadari pengguna. Menurut pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, mesin modern memang memiliki mekanisme proteksi terhadap penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dari rekomendasi. “Bisa dikompensasi dengan menggeser waktu ignition, tapi ada batasannya juga,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026). Penyesuaian ini dilakukan dengan memundurkan waktu pengapian (ignition timing retard) ketika sensor mendeteksi gejala knocking atau detonasi dini. Secara teknis, langkah ini efektif untuk mencegah kerusakan instan pada mesin. Namun, konsekuensinya tidak kecil. Saat pengapian dimundurkan, proses pembakaran tidak lagi terjadi pada titik optimal. Energi yang dihasilkan dari pembakaran menjadi kurang maksimal, sehingga tenaga mesin menurun. Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/3/2026). Pemerintah menegaskan bahwa harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tidak akan mengalami kenaikan dan memastikan pasokan BBM nasional dalam kondisi aman dan tersedia. Dampaknya terasa pada respons akselerasi yang lebih lambat dan kebutuhan bahan bakar yang justru bisa meningkat dalam kondisi tertentu. Sejumlah studi teknik, termasuk dalam jurnal Applied Thermal Engineering, menunjukkan bahwa perubahan timing pengapian akibat knocking dapat menurunkan efisiensi termal mesin. Hal ini berarti energi dari bahan bakar tidak sepenuhnya dikonversi menjadi tenaga, melainkan terbuang sebagai panas. Tidak hanya soal performa dan efisiensi, penggunaan BBM beroktan lebih rendah juga berpotensi memengaruhi umur komponen mesin. Tekanan pembakaran yang tidak stabil dalam jangka panjang dapat mempercepat keausan pada piston, ring piston, hingga katup. Pada mesin dengan turbocharger, risiko ini bahkan lebih tinggi karena tekanan dan temperatur kerja yang sudah lebih ekstrem sejak awal. Meski sistem elektronik mampu menjaga mesin tetap berjalan, kompensasi yang dilakukan ECU bukanlah solusi ideal untuk penggunaan jangka panjang. Sistem tersebut dirancang sebagai proteksi, bukan sebagai mode operasi utama. Dengan kata lain, penghematan dari selisih harga BBM bisa saja tidak sebanding dengan biaya yang muncul di kemudian hari, baik dalam bentuk konsumsi bahan bakar yang lebih boros maupun potensi perbaikan mesin. Mengikuti rekomendasi oktan dari pabrikan tetap menjadi langkah paling rasional untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi, performa, dan daya tahan mesin. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang