Pedro Acosta akan menghadapi tantangan besar pada MotoGP musim depan. Pebalap muda asal Spanyol itu bakal berada dalam satu garasi dengan Marc Marquez setelah memutuskan bergabung dengan Ducati. Kepindahan Acosta ke Ducati menjadi salah satu langkah paling menarik di bursa pebalap MotoGP. Pasalnya, ia akan menjadi rekan satu tim salah satu pebalap tersukses dalam sejarah kelas utama. Meski begitu, Acosta mengaku tidak merasa terbebani dengan statusnya sebagai rekan setim Marquez. “Saya tidak tahu apa yang akan saya temukan di garasi nanti, tapi di sisi lain saya tidak merasa tertekan,” ujar Acosta dikutip dari Motosan.es, Rabu (19/8/2026). Menurut Acosta, dirinya dan Marquez datang dengan kondisi yang berbeda dalam perjalanan karier masing-masing. Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) beraksi dalam balapan utama MotoGP Hongaria 2026 di Sirkuit Balaton Park di Balatonfokajar, Hongaria, pada 7 Juni 2026. (Foto oleh Ferenc ISZA / AFP) “Marc berada di akhir kariernya. Saya berada di awal karier saya,” kata Acosta. Acosta siap belajar dari Marquez Berada satu tim dengan Marquez tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Acosta. Pasalnya, pebalap berjuluk The Baby Alien tersebut dikenal sebagai salah satu pebalap paling dominan di MotoGP dan sering menjadi patokan bagi rekan satu timnya. Namun, Acosta melihat kesempatan tersebut sebagai pengalaman berharga untuk berkembang. Ia mengaku tidak ingin terlalu memikirkan perbandingan dengan Marquez sebelum benar-benar menjalani musim bersama Ducati. “Saya sangat berterima kasih karena meskipun belum memenangkan balapan, mereka tetap memikirkan saya untuk menjadi bagian dari proyek ini,” ujar Acosta. Bagi Acosta, hal terpenting adalah bisa segera beradaptasi dengan motor dan lingkungan baru. “Saya hanya ingin tiba di hari Minggu setelah Valencia dan melihat apa yang bisa saya lakukan,” katanya. Kagum dengan mentalitas Marc Marquez Meski belum menjadi rekan satu tim, Acosta sudah memiliki rasa hormat besar terhadap Marquez. Menurutnya, hal yang paling membuatnya kagum bukan hanya kemampuan Marquez dalam mengendarai motor, tetapi juga mentalitasnya dalam menghadapi berbagai masalah. “Kita tahu seberapa besar bakat Marc. Kita tahu seberapa cepat dia bisa melaju,” ujar Acosta. Namun, Acosta menilai kekuatan terbesar Marquez terlihat dari kemampuannya bangkit setelah mengalami berbagai cedera dan operasi dalam beberapa tahun terakhir. Pedro Acosta saat berlaga pada MotoGP Portugal 2024 “Seberapa besar dia bisa menderita, itu yang paling membuat saya terkesan,” katanya. Menurut Acosta, kemampuan untuk tetap kompetitif setelah melewati masa sulit menunjukkan karakter kuat seorang juara. Terbebani perbandingan dengan Marquez Sejak tampil di kelas Moto3, Acosta sudah sering dibandingkan dengan Marquez karena sama-sama berasal dari Spanyol dan memiliki prestasi besar di usia muda. Namun, pebalap berusia 21 tahun itu memilih untuk tidak memikirkan ekspektasi tersebut. “Saya bukan orang yang banyak membaca tentang diri saya sendiri,” ucap Acosta. Ia lebih memilih fokus pada pekerjaannya sendiri dan mendengarkan masukan dari orang-orang terdekat. Acosta juga menyadari bahwa menjadi rekan setim Marquez berarti akan ada sorotan besar terhadap dirinya. Namun, ia menilai tekanan tersebut bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Justru, kesempatan berada di sisi Marquez bisa menjadi peluang bagi Acosta untuk memahami bagaimana seorang juara dunia bekerja di dalam tim. Musim depan, perhatian publik MotoGP akan tertuju pada garasi Ducati, terutama bagaimana duel internal antara pengalaman Marc Marquez dan talenta muda Pedro Acosta akan berjalan.