MotoGP Inggris 2026 menjadi bukti kuat bahwa Aprilia RS-GP 26 saat ini memiliki paket motor yang sangat cocok dengan karakter sirkuit cepat seperti Silverstone. Aprilia berhasil mendominasi balapan utama dengan mengunci seluruh podium. Raul Fernandez dari Trackhouse keluar sebagai pemenang, disusul Jorge Martin di posisi kedua dan Marco Bezzecchi melengkapi podium. Hasil tersebut mengulang performa impresif Aprilia seperti yang terjadi di MotoGP Belanda di Assen. Saat itu, Aprilia juga berhasil mencatat kemenangan 1-2-3, sementara pebalap Ducati terbaik hanya mampu finis keempat. Di Silverstone, Ducati kembali kesulitan. Alex Marquez menjadi pebalap Ducati dengan hasil terbaik setelah finis keempat, sedangkan Marc Marquez harus puas berada di posisi ketujuh. Bagi Ducati, hasil ini menjadi sinyal peringatan. Pasalnya, masalah yang muncul bukan hanya soal posisi akhir, tetapi juga perbedaan kecepatan dengan Aprilia. Aprilia Cocok dengan Karakter Silverstone Silverstone merupakan salah satu sirkuit yang membutuhkan motor dengan kemampuan menikung cepat, stabil, dan mudah diarahkan. Karakter tersebut menjadi keunggulan Aprilia RS-GP 26. Motor tersebut mampu mempertahankan kecepatan saat melewati tikungan panjang, sesuatu yang menjadi kekuatan utama pabrikan asal Noale itu. Sementara Ducati GP26 lebih kuat di sirkuit dengan karakter stop-and-go, seperti Jerez dan Balaton Park, yang membutuhkan akselerasi serta pengereman keras. Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) bersaing dengan Alex Marquez (Gresini Racing) dalam balapan MotoGP Spanyol di Sirkuit Jerez di Jerez de la Frontera, pada 26 April 2025. (Foto oleh JORGE GUERRERO / AFP) Ketika balapan berlangsung di trek seperti Silverstone, keunggulan Ducati menjadi lebih sulit dimaksimalkan. Selain itu, masalah degradasi ban juga membuat Ducati semakin kesulitan. Motor Ducati cenderung membutuhkan bantuan ban belakang untuk membantu proses menikung. Namun ketika kondisi ban mulai menurun, performanya ikut terdampak lebih besar dibanding Aprilia. Pebalap Ducati VR46, Fabio Di Giannantonio, mengakui bahwa saat ini Aprilia menjadi patokan utama. “Saat ini kami bisa dibilang hanya menjadi kekuatan kedua. Yang pertama adalah Aprilia, mereka luar biasa. Kami tahu mereka memang sangat kuat di sini, kami sudah mengetahuinya, tetapi jaraknya benar-benar besar. Jadi saya pikir kami harus meningkatkan performa,” ujar Di Giannantonio, dikutip dari Crash.net, Selasa (11/8/2026). Aprilia Tak Hanya Andalkan Motor Selain faktor motor, performa para pebalap Aprilia juga menjadi kunci keberhasilan di Silverstone. Raul Fernandez tampil dominan setelah sebelumnya melakukan kesalahan pada balapan sprint. Ia langsung mengambil alih posisi terdepan sejak lap pertama dan mampu menjaga jarak hingga garis finis. Kemenangan tersebut menjadi kemenangan grand prix pertamanya sejak MotoGP Australia di Phillip Island tahun lalu. Fernandez mengaku kesalahan pada sprint justru membantunya memahami batas kemampuan ban belakang. Raul Fernandez “Saya pikir sesi pemanasan membantu saya memahami batas kemampuan ban belakang. Pagi itu saya cukup marah kepada diri sendiri dan mungkin terlalu memaksakan diri. Dari situ saya memahami bahwa batas ban adalah mencoba mencatat waktu 1 menit 58,4 detik atau 1 menit 58,5 detik,” ujar Fernandez. Jorge Martin juga menunjukkan kebangkitan setelah beberapa seri sebelumnya mengalami kesulitan. Finis kedua membuatnya semakin nyaman di puncak klasemen MotoGP 2026. Sementara Marco Bezzecchi menunjukkan perjuangan luar biasa. Pebalap Aprilia tersebut masih belum pulih sepenuhnya dari cedera patah tulang selangka, tetapi tetap mampu meraih dua podium di Silverstone. CEO Aprilia Massimo Rivola pun memberikan pujian atas perjuangan Bezzecchi. “Ketika Anda melihat seorang pebalap yang kesulitan berjalan di pagi hari, tetapi mampu menjalani balapan seperti itu, Anda bisa membayangkan seberapa besar hatinya,” ujar Rivola. Ducati Punya Kesempatan Bangkit Meski Silverstone menjadi milik Aprilia, Ducati masih memiliki peluang untuk membalikkan keadaan. Seri berikutnya di Aragon diperkirakan lebih menguntungkan Ducati dan Marc Marquez. Karakter sirkuit yang berlawanan arah jarum jam juga cocok dengan gaya balap Marc. Namun, hasil di Silverstone menjadi pengingat bahwa Ducati masih memiliki pekerjaan besar jika ingin mempertahankan dominasi. Saat ini, Aprilia tidak lagi hanya menjadi pesaing Ducati, tetapi sudah menunjukkan kemampuan untuk memberikan tekanan serius dalam perebutan gelar MotoGP 2026. Dengan paruh kedua musim yang masih panjang, duel Aprilia melawan Ducati diprediksi akan menjadi salah satu cerita utama hingga akhir musim.