Motor MotoGP kerap terlihat seperti hampir menyentuh aspal ketika pebalap melibas tikungan. Dalam beberapa kondisi, sudut kemiringannya bahkan bisa mencapai sekitar 65 derajat dari posisi tegak. Bagi orang awam, kondisi tersebut tentu terlihat tidak masuk akal. Sebab, semakin miring sepeda motor, semakin besar pula kesan bahwa kendaraan akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Namun, sudut kemiringan ekstrem justru menjadi salah satu bagian penting dalam teknik menikung di MotoGP. Dilansir dari MotoGP, hal itu bisa terjadi sebab motor, ban, kecepatan, aerodinamika, serta posisi tubuh pebalap bekerja secara bersamaan agar motor tetap terkendali. Jorge Martin saat berlaga pada MotoGP San Marino 2026 Lantas, bagaimana motor MotoGP bisa miring hingga 65 derajat tetapi tidak jatuh? Saat motor berbelok, motor tidak bisa tetap berada dalam posisi tegak seperti ketika melaju lurus. Motor perlu dimiringkan ke arah dalam tikungan agar dapat menjaga keseimbangan terhadap gaya yang bekerja saat berbelok. Pada motor MotoGP, sudut kemiringan dapat mencapai lebih dari 60 derajat dari posisi tegak. Bahkan, materi teknis MotoGP dan sumber terkait teknik berkendara menyebut angka sekitar 65 derajat. Semakin besar kemampuan motor untuk dimiringkan, semakin besar pula potensi kecepatan yang bisa dipertahankan saat melewati tikungan. Namun, bukan berarti pebalap selalu berusaha mendapatkan sudut kemiringan maksimum. Tujuan utamanya tetap melewati tikungan secepat dan seaman mungkin. Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) mengendarai motornya untuk memenangkan MotoGP Ceko 2026 di Sirkuit Brno, Republik Ceko, pada 21 Juni 2026. (Foto oleh Michal Cizek / AFP) Ban Salah satu faktor terpenting yang memungkinkan motor MotoGP mencapai sudut ekstrem adalah ban. Motor MotoGP menggunakan ban dengan tingkat grip yang sangat tinggi. Ditambah dengan permukaan sirkuit yang relatif halus, ban mampu mempertahankan kontak dengan aspal ketika motor dimiringkan dalam-dalam. Grip tersebut membuat ban tetap mampu menyalurkan gaya antara motor dan permukaan lintasan. Jika grip ban tidak mencukupi, sudut kemiringan sebesar itu tentu akan meningkatkan risiko kehilangan traksi dan membuat motor terjatuh. Posisi tubuh Bukan hanya motor yang dimiringkan. Pebalap juga menggeser tubuhnya ke bagian dalam tikungan. Ban balap untuk motor MotoGP yang dipasok oleh Michelin Teknik ini dikenal sebagai hanging off. Dengan memindahkan tubuh ke sisi dalam, pebalap dapat membantu mengurangi kebutuhan motor untuk dimiringkan terlalu jauh pada kecepatan tertentu. Artinya, posisi tubuh pebalap bukan sekadar gaya berkendara. Gerakan tersebut memiliki fungsi untuk mengatur distribusi bobot dan membantu motor tetap stabil ketika menikung. Pada kondisi tertentu, lutut, siku, bahkan bagian bahu pebalap dapat mendekati atau menyentuh permukaan lintasan. Pemandangan pebalap MotoGP menyentuhkan lutut ke aspal sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan, pada era modern, beberapa pebalap juga dapat menyentuhkan siku. Teknik elbow dragging merupakan perkembangan dari teknik knee dragging. Kontak dengan permukaan lintasan dapat memberikan umpan balik kepada pebalap mengenai posisi motor dan kondisi ketika menikung. Namun, menyentuhkan siku ke aspal bukan tujuan utama pebalap. Kontak tersebut merupakan hasil dari kombinasi sudut kemiringan motor yang sangat besar dan posisi tubuh pebalap yang bergeser jauh ke bagian dalam tikungan. Pebalap Trackhouse Racing MotoGP, Ai Ogura, beraksi dalam sesi latihan bebas pertama dalam rangkaian MotoGP Catalunya di Sirkuit Barcelona-Catalunya di Montmelo, dekat Barcelona, pada 15 Mei 2026. (Foto oleh Lluis GENE / AFP) Peran kecepatan Ketika motor menikung, terdapat berbagai gaya yang bekerja secara bersamaan. Motor perlu dimiringkan untuk menyeimbangkan gaya tersebut sehingga tetap mengikuti lintasan yang diinginkan. Karena itu, sudut kemiringan tidak bisa dilepaskan dari kecepatan motor. Pada kecepatan dan kondisi tikungan tertentu, motor membutuhkan sudut kemiringan tertentu. Jika kecepatan berubah, kebutuhan sudut kemiringannya juga dapat berubah. Itulah sebabnya pebalap MotoGP tidak menggunakan sudut kemiringan yang sama di setiap tikungan. Tikungan panjang dan cepat umumnya memungkinkan motor berada pada sudut kemiringan yang lebih ekstrem. Alex Marquez (Gresini Racing) memimpin balapan MotoGP Spanyol 2026 di Sirkuit Jerez di Jerez de la Frontera, pada 26 April 2025. (Foto oleh Pierre-Philippe MARCOU / AFP) Sementara itu, pada tikungan pendek, hairpin, atau rangkaian chicane, motor cenderung lebih cepat kembali ke posisi tegak agar pebalap dapat segera membuka gas. Aerodinamika juga menjadi bagian penting dalam beberapa tahun terakhir. Perangkat aerodinamika pada motor membantu meningkatkan kestabilan dan memungkinkan motor menghasilkan gaya tekan pada kondisi tertentu. Ditambah perkembangan perangkat elektronik dan performa motor yang semakin tinggi, pebalap dapat mengendalikan motor dengan lebih presisi dibanding generasi sebelumnya. Namun, aerodinamika bukan satu-satunya alasan motor bisa mencapai sudut kemiringan ekstrem. Kemampuan tersebut merupakan hasil kombinasi antara ban, sasis, elektronik, aerodinamika, kecepatan, serta teknik pebalap. PebalapAprilia Racing, Marco Bezzecchi, beraksi dalam sesi Practice di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 27 Februari 2026, jelang Grand Prix MotoGP Thailand. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) Kesimpulan Secara sederhana, motor tidak jatuh meski menikung miring karena seluruh sistem sedang bekerja untuk mempertahankan keseimbangan ketika menikung. Ban memberikan grip terhadap aspal. Motor dimiringkan untuk mengimbangi gaya saat berbelok. Pebalap menggeser posisi tubuh ke dalam untuk membantu mengatur distribusi bobot. Sementara itu, karakter motor, elektronik, dan aerodinamika turut membantu menjaga kestabilan. Selama gaya yang bekerja masih dapat dikendalikan dan grip ban tetap tersedia, motor dapat melewati tikungan dalam kondisi sangat miring. Masalah muncul ketika salah satu faktor tersebut melewati batas. Misalnya, ketika grip ban berkurang atau roda kehilangan kontak dan traksi yang cukup, motor dapat kehilangan kestabilan. Dalam kondisi seperti ini, sudut kemiringan ekstrem justru dapat berujung pada kecelakaan. Marc Marquez (Ducati Lenovo Team) merayakan kemenangan Sprint Race MotoGP Aragon di sirkuit Motorland di Alcaniz, timur laut Spanyol, pada 29 Agustus 2026. (Foto oleh JOSE JORDAN / AFP) Evolusi menikung Salah satu pebalap yang terkenal dengan gaya elbows down adalah Marc Marquez. Marquez mengembangkan gaya berkendara dengan menggeser tubuh sejauh mungkin ke bagian dalam tikungan. Cara tersebut memungkinkan dirinya memanfaatkan grip ban sekaligus membantu membatasi sudut kemiringan motor pada kondisi tertentu. Gaya tersebut kemudian menjadi bagian dari evolusi teknik menikung di MotoGP. Kini, banyak pebalap menggunakan posisi tubuh yang ekstrem ketika menghadapi tikungan dengan kecepatan tinggi. Perkembangan ini juga didukung oleh teknologi perlengkapan keselamatan. Baju balap MotoGP dilengkapi pelindung serta slider pada bagian lutut dan siku yang dirancang untuk menghadapi gesekan dengan aspal.