Ducati terus menatap masa depan MotoGP dengan memegang teguh filosofi balap mereka. CEO Ducati, Claudio Domenicali, menegaskan bahwa dalam memilih pembalap, pihak Borgo Panigale selalu mengutamakan performa dan bakat di atas lintasan, bukan asal negara atau paspor sang pembalap. Fokus pada Bakat, Bukan Kebangsaan Meskipun saat ini Ducati diperkuat oleh Marc Marquez dan kerap dikaitkan dengan rumor masa depan Pedro Acosta, Domenicali menyatakan bahwa tujuannya adalah membangun tim terkuat, bukan membuat "tim nasional Spanyol". "Kriteria pertama adalah performa, bukan paspor. Kami tidak ingin membuat tim nasional Spanyol, kami ingin pasangan pembalap terkuat yang mungkin," ujar Domenicali, dikutip dari GPOne, Senin (6/7/2026). Pebalap Spanyol dari tim Red Bull KTM Factory Racing Pedro Acosta beraksi dalam sesi latihan bebas 2 MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 28 Februari 2026. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) Kendati demikian, Domenicali tidak menutup mata untuk membawa talenta lokal kembali ke tim pabrikan. Ducati sendiri sedang memantau perkembangan Nicolò Bulega. Jika ada dua pembalap dengan kemampuan setara, faktor kebangsaan Italia baru akan menjadi penentu. Menariknya, Domenicali juga memberikan pujian khusus untuk bintang muda Pedro Acosta. Menurutnya, pembalap asal Spanyol tersebut memiliki potensi masif dan karakter yang sangat cocok dengan kultur Ducati. "Dia salah satu pemuda dengan potensi terbesar dan memiliki karakter yang sangat langsung. Cukup ducatista. Saya pikir para penggemar akan segera jatuh cinta padanya," kata Domenicali. overtake Marc Marquez dan Diggia Tantangan Ekonomi dan Persaingan MotoGP yang Ketat Selain membahas pembalap, Domenicali juga menyoroti kondisi industri sepeda motor di Eropa yang sedang menghadapi tantangan berat akibat isu geopolitik, biaya energi, dan inflasi. Namun, ia optimistis posisi Ducati di segmen pasar premium serta kedekatan dengan komunitas dan dunia balap membuat mereka lebih tangguh dari kompetitor. Di lintasan MotoGP sendiri, dominasi mutlak Ducati kini mulai mendapat perlawanan sengit. Pabrikan rival seperti Aprilia menunjukkan peningkatan signifikan, membuat peta persaingan semakin berimbang. "Dalam dua tahun terakhir, kami mengalami lebih banyak kesulitan dari biasanya dalam meningkatkan motor, sementara yang lain telah menyelesaikan masalah mereka dan seimbang. Itu adalah bagian dari kompetisi," jelasnya. Menanti Performa Marquez Setelah Musim Panas Menghadapi sisa musim kejuaraan dunia, Ducati enggan jemawa dan tidak memposisikan diri sebagai favorit utama. Menurut Domenicali, peta persaingan masih sangat terbuka, dan banyak hal yang akan bergantung pada performa para pembalapnya di paruh kedua musim, termasuk Marc Marquez. Saat ini, masih ada empat pebalap yang berada di depan Marquez dalam perebutan poin. Oleh karena itu, jeda paruh kedua musim akan menjadi momen krusial untuk melihat taji sesungguhnya dari pembalap bernomor start 93 tersebut. "Kami tidak memulai sebagai favorit. Di depan Marc ada empat pembalap dan penting untuk memahami Marquez mana yang akan kita lihat setelah musim panas," pungkas Domenicali.