Ilustrasi mobil listrik / cas kendaraan listrik Keberlanjutan insentif mobil listrik menjadi perhatian serius pelaku industri otomotif nasional. Kebijakan insentif selama ini dinilai berperan besar dalam mendorong pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Menurut beberapa pihak, jika insentif tersebut tidak dilanjutkan maka berbagai dampak berpotensi muncul, mulai dari penurunan minat konsumen hingga terganggunya kinerja industri otomotif secara keseluruhan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Ilustrasi Mobil Listrik Salah satu dampak paling langsung dari penghentian insentif adalah menurunnya daya saing harga mobil listrik. Selama ini, insentif fiskal seperti keringanan pajak membuat harga kendaraan listrik lebih terjangkau bagi masyarakat. Tanpa dukungan tersebut, selisih harga antara mobil listrik dan kendaraan bermesin konvensional akan kembali melebar.Ketua Umum Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) Munawar Chalil menilai pentingnya kepastian kebijakan insentif kendaraan listrik untuk menjaga momentum pertumbuhan industri otomotif nasional di tengah tekanan ekonomi dan dinamika pasar global. "Dunia usaha membutuhkan kepastian agar dapat menjalankan rencana kerja, apalagi industri otomotif merupakan industri strategis," kata Munawar di JIExpo Selasa, 10 Februari 2026.Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) menilai bahwa kepastian kebijakan insentif sangat penting untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik. Pasar kendaraan listrik nasional saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan, sehingga sangat bergantung pada stimulus pemerintah.Jika insentif dihentikan secara tiba-tiba, pertumbuhan pasar yang sebelumnya mulai terbentuk dikhawatirkan melambat. Hal ini dapat menghambat proses edukasi pasar dan memperlambat adopsi kendaraan listrik secara lebih luas di masyarakat.Ekonom Josua Pardede menilai, penghentian insentif mobil listrik berpotensi mengganggu kinerja industri otomotif nasional. Produsen dan pelaku industri membutuhkan kepastian kebijakan untuk menyusun strategi produksi, investasi, dan ekspansi jangka panjang.Tanpa insentif, permintaan mobil listrik dapat melemah, sehingga berdampak pada penurunan volume produksi. Pada akhirnya, kondisi ini dapat memengaruhi rantai pasok industri otomotif, termasuk sektor komponen dan tenaga kerja yang terlibat di dalamnya.Selain berdampak pada penjualan, ketidakpastian insentif juga dapat memengaruhi kepercayaan investor. Indonesia saat ini tengah berupaya menarik investasi di sektor kendaraan listrik, termasuk pembangunan pabrik dan ekosistem pendukungnya.Kebijakan yang tidak konsisten berisiko menimbulkan sikap wait and see dari investor. Padahal, investasi jangka panjang sangat dibutuhkan untuk membangun industri kendaraan listrik yang kuat dan berkelanjutan di dalam negeri.Pengembangan kendaraan listrik merupakan bagian dari strategi nasional dalam menurunkan emisi dan mendorong transisi energi. Jika adopsi mobil listrik melambat akibat penghentian insentif, maka target elektrifikasi transportasi berpotensi sulit tercapai sesuai rencana.Banyak pihak menilai bahwa insentif masih dibutuhkan, setidaknya dalam masa transisi, hingga pasar kendaraan listrik benar-benar matang dan mampu bersaing tanpa dukungan fiskal. Ilustrasi mobil listrik ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Penghentian insentif mobil listrik bukan hanya soal penghematan anggaran negara, tetapi juga menyangkut arah pengembangan industri otomotif dan transisi energi nasional. Tanpa kebijakan yang jelas dan terukur, risiko perlambatan pasar, terganggunya industri, serta menurunnya minat konsumen menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.Ke depan, pelaku industri berharap pemerintah dapat memberikan kepastian kebijakan yang seimbang, agar pertumbuhan kendaraan listrik di Tanah Air tetap berkelanjutan dan sejalan dengan target pembangunan nasional.