Dalam tiga tahun terakhir, pasar otomotif Indonesia mengalami perubahan signifikan berkat gelombang mobil listrik yang berasal dari China. Strategi harga agresif, berbagai fitur yang melimpah, serta upaya ekspansi cepat membuat sejumlah merek baru berhasil mencuri perhatian konsumen. Data penjualan tahun 2025 menunjukkan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia mencapai angka 103.931 unit. Ini merupakan lonjakan 141 persen jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang hanya mencatat 43.188 unit. Dari total tersebut, merek China menyumbang sekitar 86 persen. Secara keseluruhan, pabrikan China kini memiliki pangsa pasar sekitar 14 persen sepanjang tahun 2025, meningkat dari 10 persen pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan sebuah ekspansi yang tak lagi sporadis, tetapi mulai terstruktur melalui jaringan distribusi, diler, hingga kerjasama yang berkelanjutan. Namun, memasuki tahun 2026, situasi ini berpotensi berubah. Serangkaian insentif yang selama ini mendukung harga mobil listrik, seperti pembebasan bea masuk dan relaksasi pajak, berdasarkan Peraturan Menteri Investasi Nomor 6 Tahun 2023 jo Nomor 1 Tahun 2024, resmi berakhir. Lantas, di sinilah muncul sebuah pertanyaan besar. Apakah ekspansi ini cukup kuat untuk bertahan, atau justru mulai memasuki fase disrupsi? DFSK Seres E1 hadir di Bandung, Jawa Barat. Ekspansi Cepat, Fondasi Belum Tuntas Gelombang masuknya merek dari China diawali oleh Wuling dan DFSK, yang kemudian disusul oleh Chery, Neta, BYD, Jetour, Jaecoo, Lepas, GAC Aion, Xpeng, dan beberapa nama lainnya. Dalam waktu yang relatif singkat, persaingan di pasar otomotif pun mengalami perubahan drastis. Momen insentif fiskal ini dimanfaatkan dengan baik oleh para produsen untuk menawarkan harga yang sulit ditandingi. Strategi ini terbukti efektif dalam membangun volume penjualan dan menciptakan persepsi bahwa mobil listrik kini semakin terjangkau. Konsumen pun diberikan beragam pilihan di rentang harga sensitif, antara Rp 200 juta hingga Rp 500 juta. Namun, tidak semua merek masuk dengan tingkat komitmen investasi yang sama. Sebagian dari mereka telah menyiapkan fasilitas produksi, baik secara mandiri maupun melalui kemitraan strategis, seperti Wuling, DFSK, BYD, dan Indomobil Group. Sementara itu, merek lainnya masih mengandalkan impor CBU atau menumpang produksi di fasilitas pihak ketiga. Perbedaan dalam komitmen investasi ini menjadi faktor utama ketika insentif berhenti. Merek yang telah memiliki pabrik atau fasilitas perakitan permanen menunjukkan komitmen jangka panjang yang kuat, karena investasi yang mereka tanamkan tidaklah sedikit. Wuling Berkolaborasi dengan NMAA Menampilkan Darion ?Daily Use Dress-Up? di Ajang IIMS 2026 Di sisi lain, merek yang masih 'numpang' memiliki fleksibilitas lebih tinggi untuk keluar dari pasar ketika kondisi bisnis tidak lagi menguntungkan. Dinamika Merek: Contoh Nyata Disrupsi Beberapa kasus dalam dua tahun terakhir menunjukkan bagaimana struktur yang belum solid dapat dengan mudah terguncang. Neta merupakan contoh terkini dari dinamika ini. Prinsipal di negara asalnya tengah menjalani restrukturisasi, yang berdampak pada aktivitas di Indonesia. Produksi yang dilakukan di fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM) sempat dihentikan sementara. Perusahaan memastikan bahwa stok dan garansi tetap berjalan, namun bagi konsumen, kabar penghentian produksi, meski hanya sementara, cukup menimbulkan kekhawatiran. Zeekr pun mengalami perubahan dalam struktur distribusinya. Awalnya dikelola oleh Premium Auto Prima bersama Zeekr South East Asia, merek ini sempat batal berjualan, sebelum akhirnya kembali hadir pada 2025 di bawah kendali langsung Geely Group. Perubahan ini menunjukkan bahwa fase awal ekspansi belum sepenuhnya stabil. Maxus juga mengalami penataan ulang. Model Mifa 9 diperkenalkan di GIIAS 2023, lalu dihadirkan sebagai MG Maxus 9 di IIMS 2024. Tidak lama setelah itu, PT Indomobil Sukses International Tbk (IMAS) resmi ditunjuk sebagai distributor eksklusif kendaraan penumpang Maxus. MAXUS MIFA 9 multi-purpose vehicle (MPV) listrik premium yang menawarkan ketenangan dan kenyamanan kelas satu untuk mobilitas harian. Konsolidasi ini memperjelas arah bisnis, namun juga menandakan bahwa struktur awal belum sepenuhnya matang. Rangkaian peristiwa ini memberikan gambaran sederhana, bahwa ketika strategi masuk terlalu cepat, fase koreksi hampir tak terhindarkan. Chery Group Chery Group juga mengadopsi strategi ekspansi portofolio. Selain Chery sebagai merek utama, grup ini juga membawa Jaecoo, Lepas, dan i-Car untuk memperluas jangkauan segmennya. Sepanjang tahun 2025, Chery mencatatkan penjualan 19.391 unit wholesales dan menempati posisi ke-9 secara nasional. Jaecoo berada di posisi ke-17 dengan 2.653 unit. Namun, dari sisi produksi, merek-merek tersebut masih bergantung pada fasilitas PT Handal Indonesia Motor (HIM), sehingga belum memiliki pabrik mandiri. Berbagi fasilitas memang efisien dari segi investasi awal. Namun, ketergantungan pada pihak ketiga berarti fleksibilitas produksi dan kontrol rantai pasok tidak sepenuhnya berada di tangan prinsipal dan melibatkan pemasok lokal. Pengembangan jaringan diler pun sebagian besar masih bertumpu pada ekosistem Chery yang sedang dalam tahap ekspansi. Dalam kondisi tekanan biaya atau gangguan operasional, risiko ketergantungan ini menjadi semakin nyata. Chery Tiggo 8 di IIMS 2026 Indomobil “Berternak” Merek China Dalam dinamika ini, peran grup otomotif nasional menjadi sangat menentukan. Salah satu yang paling agresif adalah Indomobil Group. 2025, Indomobil mengawasi distribusi untuk merek-merek seperti GAC Aion, Maxus, Great Wall Motor (GWM), Changan, dan JAC Motors di segmen komersial. Strategi ini sering kali disebut sebagai upaya “berternak” merek, yaitu membawa beberapa brand sekaligus untuk menangkap momentum pertumbuhan kendaraan listrik. Namun, yang membedakan adalah, sebagian merek tersebut sudah dipersiapkan dengan basis produksi yang matang. GAC Aion dan Changan akan diproduksi di fasilitas National Assemblers, Purwakarta, Jawa Barat, yang merupakan bagian dari ekosistem manufaktur Indomobil Group. Sementara GWM dirakit di fasilitas kerjasama Indomobil-Inchcape di Wanaherang, Bogor. Dari segi wholesales tahun 2025, GAC Aion mencatatkan penjualan 6.839 unit dan berada di posisi ke-15 nasional. GWM menyumbang 1.628 unit, sedangkan Maxus mencatatkan 294 unit. Changan dan JAC Motors belum mencapai angka yang signifikan. Pendekatan multi-brand ini memang memperluas pilihan konsumen dan mempercepat penetrasi pasar. Namun, strategi ini juga membutuhkan komitmen jangka panjang yang konsisten. Tanpa adanya penguatan jaringan dan diferensiasi yang jelas, fragmentasi dalam dukungan purna jual dapat menjadi risiko yang nyata. Keberhasilan distribusi tidak hanya ditentukan oleh prinsipal di China, tetapi juga oleh kesiapan mitra lokal dalam menjaga stabilitas operasional. BYD Atto 3 Advance Plus IIMS 2026 Insentif Habis, Harga Bisa Melonjak Berakhirnya insentif impor dan relaksasi fiskal berpotensi memengaruhi harga jual, khususnya untuk model CBU. Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memprediksi bahwa kenaikan harga mobil listrik tanpa subsidi dapat mencapai 20 hingga 40 persen, tergantung pada skema tarif dan kebijakan perdagangan yang berlaku. “Kenaikan harga rata-rata 20 persen hingga 40 persen dari harga jual saat ini untuk model CBU BEV pada 2026, tergantung pada kesepakatan tarif antara Indonesia dengan negara pengimpor mobil,” ungkapnya kepada Kompas.com. Jika proyeksi tersebut terealisasi, segmen harga Rp 300–500 juta, yang selama ini menjadi motor pertumbuhan mobil listrik asal China, bisa mengalami dampak signifikan. Perbedaan harga dengan mobil bermesin konvensional akan kembali melebar, dan keputusan pembelian konsumen menjadi lebih rasional. 2026: Uji Daya Tahan Pasar kendaraan listrik di Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh. Namun, fase berikutnya tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling cepat masuk, melainkan oleh siapa yang memiliki fondasi produksi, distribusi, dan layanan purna jual yang kokoh. Disrupsi dalam konteks ini bukan sekadar soal kegagalan merek, tetapi juga merupakan proses seleksi alam dalam industri. Merek yang berorientasi jangka panjang kemungkinan besar akan bertahan. Sebaliknya, mereka yang hanya mengejar momentum insentif berisiko tersingkir ketika kondisi pasar berubah. Di tengah dinamika yang terjadi, konsumen tetap menjadi pihak yang paling membutuhkan kepastian. Memasuki tahun 2026, ujian sebenarnya bagi mobil listrik asal China di Indonesia bukan hanya soal harga, tetapi juga tentang komitmen dan daya tahan mereka. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang