Pemerintah menargetkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik mencapai 60 persen mulai 2027. Target tersebut diarahkan untuk memperdalam struktur industri kendaraan listrik di Indonesia. Investasi yang masuk diharapkan tidak berhenti pada kegiatan perakitan, tetapi ikut mendorong tumbuhnya industri komponen dan rantai pasok domestik. Sailun Tire Indonesia meluncurkan dua ban baru di Giicomvec 2026 Upaya tersebut mulai terlihat dari semakin banyaknya pemasok komponen asal China yang ikut masuk ke Indonesia. Bukan hanya sektor baterai dan sistem penggerak, komponen pendukung seperti ban hingga sejumlah komponen yang dapat diproduksi industri kecil dan menengah (IKM) juga mulai berpotensi diisi pemain asal Negeri Tirai Bambu. Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki mengatakan, kehadiran pemasok China di Indonesia pada dasarnya dapat menjadi peluang untuk memperkuat rantai pasok nasional selama investasi tersebut benar-benar dilakukan di dalam negeri. Ilustrasi Wuling Aira EV di GIIAS 2026 “Selama itu lokal akan sangat bagus untuk memperkuat rantai pasok lokal,” ujar Rachmat kepada Kompas.com, dikutip Senin (7/9/2026). Menurut dia, salah satu alasan semakin banyak perusahaan China masuk ke sektor komponen adalah kebutuhan memenuhi persyaratan TKDN kendaraan listrik. “Sesuai dengan persyaratan TKDN terbesar ada di baterai, jadi banyak perusahaan China yang berinvestasi di part-part atau komponen baterai,” kata Rachmat. Gotion sebut porsi harga baterai mobil listrik kini turun menjadi 40-50 persen. Namun, tidak seluruh kebutuhan komponen kendaraan listrik harus dipenuhi oleh pemasok baru. Ia mengeklaim bahwa untuk komponen yang sifatnya pendukung dan universal, sebagian pabrikan disebut sudah memanfaatkan industri komponen yang lebih dahulu beroperasi di Indonesia. “Sedangkan komponen pendukung dan universal, beberapa saya lihat ambil dari industri komponen yang sudah ada,” ucap Rachmat. Booth Chery di GJAW 2024 Pemasok China Masuk Masuknya perusahaan komponen China sebenarnya tidak otomatis menjadi ancaman bagi industri lokal. Jika perusahaan tersebut membangun fasilitas produksi di Indonesia dan menggunakan pemasok domestik, kehadirannya justru dapat memperluas ekosistem industri kendaraan listrik. Namun, tantangannya adalah memastikan lokalisasi tersebut tidak berhenti pada pemindahan aktivitas produksi dari China ke Indonesia, sementara rantai pasok utamanya tetap bergantung pada perusahaan asal China. Pakar otomotif ITB Yannes Martinus Pasaribu menilai, kondisi ini menjadi semakin penting karena sejumlah merek China masih menggunakan fasilitas perakitan milik pihak ketiga. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, saat melihat proses produksi di pabrik merek China Sokon yang sudah menggunakan robot. Menurut dia, model perakitan kontrak memang masih bisa menjadi pintu masuk bagi merek baru. Akan tetapi, pola tersebut belum tentu cukup untuk memenuhi target pendalaman industri dan TKDN 60 persen. “Model perakitan kontrak melalui fasilitas pihak ketiga tentu masih dapat menjadi pintu masuk bagi merek baru, tetapi untuk jangka panjang kemungkinan tidak cukup jika harus memenuhi target pemerintah terkait dengan pendalaman industri yang 60 persen tersebut,” kata Martin, kepada Kompas.com (6/9/2026).