Kehadiran mobil listrik membuat tenaga penjual atau sales dituntut memahami produk secara lebih mendalam. Pasalnya, kendaraan listrik memiliki sejumlah karakteristik yang berbeda dengan mobil bermesin pembakaran internal. Salah satunya berkaitan dengan cara membaca jarak tempuh dan mengelola baterai. Menurut pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, sales tidak cukup hanya menguasai daftar fitur yang tersedia pada sebuah mobil listrik. "Di EV, tenaga sales menurut saya bukan sekadar menutup transaksi, tetapi menerjemahkan angka teknis menjadi informasi yang dipahami konsumen awam," ujar Yannes, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Ilustrasi booth Wuling di PEVS 2025 Tak Sekadar Hafal Spesifikasi Menurut Yannes, pemahaman mengenai mobil listrik harus bisa diterjemahkan sales menjadi informasi yang mudah dimengerti konsumen. "Kalau brosur menyebut jarak tempuh 400 km, sales harus bisa menjelaskan secara clear bahwa itu hasil pengujian dengan standar dan kondisi tertentu, bukan berarti setiap konsumen pasti mendapatkan 400 km di jalan nyata," kata Yannes. "Karena itu, product knowledge semua sales menjadi sangat penting. Sales harus memahami standar uji jarak tempuh, karakter baterai, fitur kendaraan, kapasitas baterai yang benar-benar dapat digunakan, waktu charging, sampai faktor yang membuat konsumsi listrik meningkat," ujar Yannes. Kebutuhan konsumen yang menggunakan mobil untuk perjalanan dalam kota tentu berbeda dengan mereka yang rutin melakukan perjalanan antarkota. Karena itu, sales perlu menggali pola penggunaan calon pembeli sebelum memberikan penjelasan mengenai produk. Booth Lepas di GIIAS 2026 "Setelah itu, baru dicocokkan dengan kebutuhan pembeli. Sehari menempuh berapa kilometer, bisa charging di rumah atau tidak, dan seberapa sering melakukan perjalanan jauh," kata Yannes. Ekspektasi Konsumen Perlu Diluruskan Sejak Awal Yannes menilai pemahaman tersebut juga berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik. "Kompetensi dan product knowledge para sales jadi sangat penting. Lebih baik ekspektasi konsumen diluruskan sejak di ruang pamer, daripada kekecewaan baru muncul di tengah jalan setelah kendaraan dibeli," ujarnya. Hyundai Ioniq 5 yang dipamerkan di GIIAS 2024. Menurut Yannes, kasus viral belakangan ini terkait konsumen mobil listrik yang kecewa dengan pelayanan dari sales, menunjukkan bahwa sales EV sekarang harus mempunyai product knowledge yang lebih dalam dibanding sekadar menghafal fitur. "Dia harus bisa menjelaskan karakter baterai, jarak tempuh, pola charging, dan konsekuensi penggunaan sehari-hari dengan bahasa yang sederhana. Jadi, peran sales sebenarnya penting sekali, bukan membuat EV terlihat sempurna, tetapi membuat konsumen memahami kendaraan yang akan dibelinya," ujar Yannes. "Ketika keterbatasannya dijelaskan sejak awal sekaligus cara mengelolanya, konsumen justru lebih siap dan percaya. Yang berbahaya adalah ketika penjelasan teknis baru diterima setelah masalah terjadi," kata Yannes. IONIQ 6 AIRLANGGA GIIAS 2023 Dengan demikian, peran sales tidak berhenti pada proses transaksi. Informasi yang diberikan sebelum pembelian juga menjadi bagian penting dalam membentuk ekspektasi konsumen. Terlebih, keputusan membeli mobil listrik tidak hanya berkaitan dengan harga dan fitur. Konsumen juga perlu mengetahui pola penggunaan, kebutuhan pengisian daya, serta karakter kendaraan yang akan digunakan sehari-hari. Penjelasan yang lengkap sejak awal diharapkan dapat membantu konsumen memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan mobilitasnya.