Kecelakaan tabrak belakang masih menjadi salah satu insiden yang paling sering terjadi di jalan tol. Penyebabnya beragam, mulai dari pengemudi yang kurang menjaga jarak, melaju terlalu cepat, hingga terlambat mengantisipasi kondisi lalu lintas di depan. Menurut Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, berkendara di jalan tol justru lebih banyak mengandalkan kemampuan defensive driving dibanding sekadar keterampilan mengoperasikan kendaraan. "Di jalan tol terutama, jalan yang bebas hambatan itu operasional kendaraan sebenarnya sederhana. Berkendara dengan gigi tinggi atau mobil matik di posisi D, pengemudi hanya mengendalikan setir dan arahnya cenderung lurus," kata Sony, kepada Kompas.com, Minggu (26/7/2026). Ia menjelaskan, kemampuan mengemudi atau safety driving hanya berkontribusi sekitar 30 persen saat berkendara di jalan tol. Sementara 70 persen sisanya bergantung pada kemampuan membaca situasi dan mengantisipasi potensi bahaya di sekitar kendaraan. "Jadi ilmu safety driving itu paling hanya 30 persen. Nah, yang 70 persen adalah ilmu defensive driving," ujarnya. Lantas, apa saja yang harus dilakukan agar terhindar dari risiko tabrak belakang di jalan tol? test drive iCar V23 di jalan tol Jaga Jarak Aman Sony mengatakan, menjaga jarak dengan kendaraan di depan merupakan langkah paling mendasar dalam defensive driving. Dengan jarak yang cukup, pengemudi memiliki waktu lebih banyak untuk bereaksi ketika kendaraan di depan mengerem mendadak atau terjadi hambatan di jalan. Selain itu, ruang pandang ke depan juga menjadi lebih luas sehingga blind spot bisa dikurangi. "Kalau jaga jarak, blind spot lebih kecil. Kemudian ketika kendaraan di depan berhenti mendadak atau ada gangguan, kita lebih gampang mengantisipasi. Kita juga punya ruang untuk menghindar ke kiri atau ke kanan kalau memang memungkinkan," katanya. Sesuaikan Kecepatan Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah kecepatan kendaraan. Sony menilai masih banyak pengemudi yang melaju dengan kecepatan yang tidak sesuai kondisi lalu lintas maupun lajur yang digunakan. Ia mencontohkan kendaraan yang melaju pelan tetapi tetap berada di lajur kanan. Padahal, lajur kanan diperuntukkan bagi kendaraan yang sedang mendahului. "Kalau mau pelan enggak ada masalah, selama kecepatannya sekitar 60 kilometer per jam ya di lajur kiri. Karena kalau berada di kanan, potensi bahayanya lebih besar akibat perbedaan kecepatan kendaraan," ujar Sony. Menurut dia, menggunakan lajur kanan hanya saat benar-benar diperlukan untuk menyalip akan membantu mengurangi risiko kecelakaan. Ilustrasi mengemudi di jalan tol. Perhatikan Komunikasi Antar Kendaraan Defensive driving juga menuntut pengemudi untuk membaca setiap bentuk komunikasi dari pengguna jalan lain. Komunikasi tersebut bisa berupa lampu rem yang menyala, lampu sein, klakson, hingga gerakan kendaraan di depan. Jika posisi kendaraan terlalu dekat atau melaju terlalu cepat, pengemudi akan kesulitan menangkap sinyal-sinyal tersebut sehingga berpotensi terlambat mengerem. "Kalau terlalu dekat dan kecepatannya terlalu tinggi, kita enggak bisa membaca komunikasi yang ada di depan kendaraan kita. Misalnya lampu rem atau klakson, akhirnya ngerem mendadak kita enggak bisa baca," kata Sony. Lakukan Commentary Driving Tips berikutnya adalah menerapkan commentary driving, yaitu membiasakan diri mengomentari kondisi jalan selama mengemudi. Cara ini dinilai efektif untuk menjaga fokus, mengurangi rasa bosan, sekaligus mencegah kantuk saat perjalanan jauh. "Commentary driving tujuannya bukan cuma cuap-cuap, tetapi membuat pengemudi lebih fokus, enggak ngantuk, dan enggak bosan. Jadi selama perjalanan suplai oksigen dan darah ke otak tetap terjaga," ujarnya. Ilustrasi berkendara mobil Kendalikan Emosi Terakhir, Sony menegaskan bahwa kemampuan mengendalikan emosi menjadi faktor yang paling penting sekaligus paling sulit diterapkan. Pengemudi yang mudah terpancing emosi cenderung mengambil keputusan secara spontan, seperti mengerem mendadak, menyalip secara agresif, atau memaksa berpindah lajur tanpa memperhitungkan risiko. "Yang paling penting menurut saya adalah jaga emosi," kata Sony. Ia menambahkan, pengereman mendadak atau kondisi darurat di jalan mungkin tetap bisa terjadi. Namun, jika lima prinsip defensive driving tersebut diterapkan secara konsisten, risiko tabrak belakang dapat ditekan semaksimal mungkin. "Mungkin ngerem mendadak akan terjadi, menghindar juga akan terjadi. Tetapi risiko tabrak belakang akan bisa diminimalisir," ujar Sony.