JAKARTA, KOMPAS.com – Pecah ban saat kendaraan melaju, terutama di jalan tol, selalu menjadi momok bagi pengemudi. Namun, tidak semua pecah ban memiliki tingkat bahaya yang sama. Ada perbedaan besar antara pecah ban depan dan ban belakang, terutama dari sisi kendali kendaraan. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa kondisi pecah ban depan lebih berbahaya ketimbang pecah ban belakang. Mobil boks terguling di Jembatan Suramadu "Berbeda dengan ban belakang, yang relatif lebih mudah dikendalikan. Pengemudi bahkan masih bisa berhenti dan menceritakan bahwa ban belakangnya pecah. Namun, jika ban depan yang pecah di jalan tol atau highway, kondisinya sangat berbahaya dan sering berujung kendaraan terbalik," kata Jusri kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2026). "Coba lihat laporan-laporan kecelakaan di media sosial, rata-rata yang selamat itu ban belakang yang pecah. Kalau ban depan, kebanyakan terbalik," ujarnya. Jusri menjelaskan, saat ban belakang pecah, pengaruhnya terhadap kendali kendaraan tidak terlalu besar. Hal ini berkaitan dengan pembagian bobot kendaraan. Sebuah mobil mewah, Porsche mengalami rusak parah setelah menabrak guardrail di Tol Pasuruan-Probolinggo, Minggu (16/11/2025). "Kalau yang pecah itu ban belakang, perubahan weight shifting tidak terlalu terasa bagi pengemudi. Sebab ban yang pecah ada di belakang, sementara bobot kendaraan sedang bertumpu di roda depan," katanya. "Akibatnya, gejala gaya gravitasi maupun gaya lain seperti lateral dan sentrifugal tidak terlalu besar. Sehingga yang penting, tahan setir, angkat gas dalam evasive driving, sambil mengarahkan kendaraan ke sisi yang aman," ujarnya. Berbeda halnya ketika ban depan yang pecah. Mobil Mazda CX-5 alami pecah ban di jalan tol Jusri menegaskan bahwa kondisi ini jauh lebih berbahaya, terutama jika pengemudi panik. "Namun, yang paling berbahaya dan bisa menyebabkan hilang kendali adalah kepanikan saat ban depan yang pecah," ujar Jusri. "Ketika ban depan pecah, naluri manusiawi adalah melakukan perlambatan, entah dengan mengangkat gas atau mengerem. Perilaku ini, tanpa mengantisipasi bahaya dari belakang, berpotensi menyebabkan kendaraan ditabrak dari belakang, karena kendaraan di belakang tidak menjaga jarak aman," kata Jusri. Penjelasan Pengereman Mendadak Jusri menjelaskan pengereman mendadak saat ban depan pecah bisa membuat bobot kendaraan berpindah ke depan secara ekstrem. Kondisi ini memperbesar risiko mobil tertarik ke sisi ban yang rusak, kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya terbalik. Karena itu, pengemudi perlu memahami bahwa pecah ban depan bukan sekadar masalah teknis, melainkan situasi darurat yang membutuhkan ketenangan, kontrol setir yang baik, serta pemahaman teknik evasive driving agar risiko kecelakaan bisa ditekan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang