Perjalanan jarak jauh saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) kerap menjadi momen yang dinanti banyak keluarga. Namun, di balik euforia liburan, ada satu risiko yang perlu diwaspadai pengendara saat berada di jalan, yakni ban pecah. Kondisi ini bukan hanya mengganggu perjalanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan, terutama ketika kendaraan melaju di kecepatan tinggi di jalan tol. Karena itu, memahami penyebab ban pecah menjadi langkah awal yang penting sebelum memulai perjalanan liburan. Deputy Head of OE Sales PT Bridgestone Tire Indonesia, Fisa Rizqiano, mengatakan, ban pecah bisa dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah road hazard, seperti benturan dengan lubang jalan, batu, atau benda keras lainnya. Perlunya menyesuaikan tekanan angin ban. Namun, menurut Fisa, faktor yang paling sering ditemukan justru berasal dari tekanan angin ban yang tidak sesuai, khususnya tekanan angin yang kurang. “Ada beberapa faktor yang menyebabkan bisa pecah. Selain karena road hazard, yang paling sering ditemukan adalah karena faktor tekanan angin,” kata Fisa, kepada Kompas.com, Sabtu (20/12/2025). Ia menjelaskan, tekanan angin yang kurang membuat ban harus bekerja lebih keras dalam menopang beban kendaraan. Akibatnya, struktur ban mengalami lenturan atau flexing secara terus-menerus selama perjalanan. Kondisi tersebut memicu panas berlebih di dalam ban. Penumpukan panas inilah yang kemudian memberikan tekanan ekstra pada komponen ban dan meningkatkan risiko kerusakan. “Kondisi angin kurang menyebabkan ban bekerja ekstra menanggung beban kendaraan dan mengalami lenturan (flexing) terus-menerus menghasilkan panas berlebih di dalam struktur ban,” kata dia. Lebih lanjut, panas yang berlebihan tidak hanya mempercepat keausan ban, tetapi juga bisa menyebabkan kerusakan yang terjadi lebih cepat dan tidak merata. Dalam kondisi ekstrem, hal ini dapat meningkatkan risiko ban pecah secara tiba-tiba dan berbahaya. “Penumpukan panas ini memberi tekanan berlebihan pada komponen ban, yang dapat menyebabkan keausan dini dan tidak merata, kerusakan lebih cepat, dan secara signifikan meningkatkan risiko ban pecah secara tiba-tiba dan berbahaya,” kata Fisa. Pada periode libur Nataru, kendaraan umumnya membawa muatan lebih berat, baik penumpang maupun barang bawaan. Jika tidak diimbangi dengan tekanan angin ban yang sesuai, maka risiko ban bermasalah di tengah perjalanan pun semakin besar. Oleh karena itu, sebelum berangkat liburan, pengendara disarankan untuk memeriksa kondisi ban secara menyeluruh, mulai dari tekanan angin, ketebalan tapak, hingga kondisi dinding ban. Langkah sederhana ini penting untuk memastikan perjalanan liburan tetap aman, nyaman, dan terhindar dari risiko yang tidak diinginkan di jalan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang