Ban bekas kerap menjadi pilihan bagi sebagian pemilik kendaraan yang ingin menghemat biaya perawatan. Namun di balik harganya yang lebih terjangkau, terdapat sejumlah risiko yang kerap diabaikan. Tanpa pengetahuan yang cukup, membeli ban bekas justru bisa berujung pada masalah keselamatan di jalan. Menurut Madok, pemilik MW Wheels di Jakarta Selatan, banyak konsumen masih melakukan kesalahan mendasar saat memilih ban bekas, terutama karena hanya berfokus pada harga murah dan tampilan luar. “Banyak yang lihatnya cuma kembang ban masih tebal, padahal belum tentu aman. Struktur dalam ban itu yang paling penting, tapi sering tidak diperiksa,” kata Madok kepada Kompas.com, Sabtu (4/4/2026). Ia menjelaskan, salah satu kesalahan paling umum adalah tidak memeriksa usia ban. Ban memiliki batas umur pakai meski secara visual masih terlihat baik. Ban yang sudah terlalu lama berisiko mengalami pengerasan kompon, sehingga daya cengkeramnya menurun drastis. Selain itu, banyak pembeli juga mengabaikan riwayat penggunaan ban. Ban bekas yang pernah mengalami benturan keras, seperti menghantam lubang atau trotoar, berpotensi memiliki kerusakan internal yang tidak terlihat dari luar. Kondisi ini bisa memicu benjolan atau bahkan pecah ban saat digunakan dalam kecepatan tinggi. MW Wheels, tempat jual beli ban mobil bekas yang terletak di Bintaro, Jakarta Selatan. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tidak mengecek kondisi dinding samping. Retakan halus atau bekas tambalan pada area ini kerap luput dari perhatian, padahal bagian tersebut sangat krusial dalam menahan tekanan udara. “Dinding samping itu tidak boleh ada retak atau tambalan besar. Kalau sudah rusak di situ, sebaiknya jangan dipakai karena risikonya tinggi,” ujar Madok. Ilustrasi ban mobil bekas. Tak sedikit pula pembeli yang tergoda ban bekas impor tanpa memahami standar dan kecocokannya dengan kondisi jalan di Indonesia. Padahal, karakter ban yang digunakan di luar negeri belum tentu sesuai dengan iklim tropis maupun kondisi jalan yang beragam. Madok juga menyoroti kebiasaan membeli ban tanpa mencocokkan spesifikasi dengan kendaraan. Mulai dari ukuran, indeks beban, hingga rating kecepatan, semuanya harus sesuai agar performa dan keselamatan tetap terjaga. Ia menyarankan agar konsumen lebih teliti dan tidak terburu-buru saat membeli ban bekas. Jika perlu, lakukan pemeriksaan bersama teknisi berpengalaman untuk memastikan kondisi ban benar-benar layak pakai. “Kalau ragu, lebih baik pilih ban baru kelas menengah daripada ban bekas yang tidak jelas riwayatnya. Jangan sampai niat hemat malah jadi mahal karena risiko kecelakaan,” kata Madok. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang