Ilustrasi SIM. Mengikuti tes mengemudi atau tes SIM sering menjadi momen menegangkan bagi banyak orang. Tidak sedikit peserta yang sebenarnya sudah bisa mengemudi, tetapi tetap gagal karena melakukan kesalahan kecil yang dianggap fatal oleh penguji. Ilustrasi SIM. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Dikutip VIVA Rabu, 27 Mei 2026 dari SlashGear, berdasarkan berbagai laporan sekolah mengemudi dan data pengujian berkendara, ada sejumlah kesalahan umum yang paling sering menyebabkan peserta tidak lulus saat ujian praktik mengemudi.Salah satu kesalahan paling umum adalah tidak berhenti total di rambu stop atau lampu merah. Banyak peserta melakukan rolling stop, yaitu kendaraan masih sedikit bergerak ketika berhenti. Dalam aturan berkendara, kendaraan wajib benar-benar berhenti sebelum kembali melaju. Kebiasaan kecil ini sering dianggap pelanggaran serius karena berkaitan langsung dengan keselamatan di jalan.Kesalahan berikutnya adalah kurang melakukan pengecekan spion dan blind spot sebelum berpindah jalur atau berbelok. Penguji biasanya sangat memperhatikan apakah peserta memeriksa kondisi sekitar kendaraan sebelum bermanuver. Bahkan pada mobil modern yang sudah memiliki sensor, peserta tetap diwajibkan menoleh secara manual untuk memastikan kondisi aman.Selain itu, banyak peserta tes gagal karena tidak menjaga posisi tangan dengan benar di setir. Dalam standar keselamatan berkendara, posisi tangan yang disarankan adalah di arah “jam 9 dan 3” agar pengendalian kendaraan lebih stabil dan responsif. Mengemudi dengan satu tangan sering dianggap sebagai bentuk kurangnya kontrol terhadap kendaraan.Masalah kecepatan juga menjadi penyebab umum kegagalan saat tes SIM. Tidak hanya terlalu cepat, mengemudi terlalu lambat juga dapat dianggap berbahaya karena mengganggu arus lalu lintas. Penguji biasanya menilai kemampuan peserta dalam menyesuaikan kecepatan sesuai kondisi jalan dan batas yang berlaku.Banyak peserta juga masih kesulitan memahami aturan prioritas di persimpangan atau four-way stop. Kesalahan membaca situasi di persimpangan dapat membuat penguji menilai peserta belum cukup siap menghadapi kondisi lalu lintas nyata.Faktor lain yang sering diremehkan adalah pengereman mendadak dan terlalu dekat dengan kendaraan di depan. Pengemudi pemula sering gugup sehingga sulit memperkirakan jarak aman. Padahal, menjaga jarak kendaraan menjadi salah satu aspek penting dalam keselamatan berkendara dan selalu diperhatikan saat tes praktik.Tidak hanya soal teknik mengemudi, kondisi kendaraan juga dapat menyebabkan peserta gagal tes. Lampu rem yang mati, wiper tidak berfungsi, atau dokumen kendaraan yang tidak lengkap bisa membuat ujian dibatalkan sebelum dimulai. Karena itu, pemeriksaan kendaraan sebelum tes menjadi langkah penting yang sering terlupakan. Ilustrasi SIM ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Bagi sebagian peserta, parkir paralel juga menjadi tantangan terbesar. Manuver ini membutuhkan koordinasi setir, rem, dan perhitungan jarak yang tepat. Di beberapa wilayah, kegagalan melakukan parkir paralel dengan benar dapat langsung memengaruhi hasil akhir tes mengemudi.Meski terlihat sederhana, sebagian besar kesalahan saat tes SIM sebenarnya berasal dari kurangnya latihan dan rasa gugup berlebihan. Karena itu, banyak instruktur menyarankan peserta untuk membiasakan teknik berkendara yang benar sejak awal, bukan hanya saat mendekati hari ujian. Dengan latihan yang cukup dan pemahaman aturan lalu lintas yang baik, peluang untuk lulus tes mengemudi tentu akan jauh lebih besar.